BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manajemen merupakan proses
penatalaksanaan kegiatan oraganisasi melalui upaya orang lain mencapai tujuan
bersama. Sedangakan manajemen keperawatan merupakan pengalokasian aktifitas
keperawatan yang dilaksanakan oleh para perawat dalam upaya memberikan
pelayanan kperawatan yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan
yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.
Perawat dalam memberikan
pelayanan keperawatan tidak dapat bekerja sendiri, tetapi harus bekerja sama
dengan tim kesehatan lain untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi
klien. Kerjasama tersebut harus ditata sehingga mengjasilkan pelayanan
kesehatan yang berkualitas, penataan yang dimaksud adalah pengorganisasian
segala sumber yang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan pelayanan keperawatan,
Pengorganisasian adalah
langkah kedua dalam manajemen yang sangat penting dilakukan oleh setiap unit
kerja / unit organisasi (Subur, 1997). Pengorganisasian dalam keperawatan
dimaksudkan untuk mengelompokkan aktifitas-aktifitas dengan sasaran untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan. Penugasan masing-masing kelompok
diberikan kepada pimpinan yang diberi wewenang untuk mengawasi sekaligus
melakukan koordinasi dengan unit lain baik secara horizontal maupun vertikal.
B. Rumusan Masalah
Adapun masalah
yang dibahas dalam makalah ini, yaitu sebagai berikut:
1. Apa
pengertian Manajemen Pengorganisasian
Pelayanan Keperawatan?
2. Bagaimana
tangung Jawab Perawat dalam manajemen Pengorganisasian Pelayanan Keperawatan ?
3. Apa
Metode Pengorganisasian Pelayanan Keperawatan ?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui pengertian Pengorganisasian
Pelayanan Keperawatan
2. Untuk
mengetahui tanggung jawab perawat dalam Pengorganisasian Pelayanan Keperawatan
3. Untuk
mengetahui Metode dalam Pengorganisasian
Pelayanan Keperawatan
D. Sistematika Penulisan
Dalam menyusun makalah ini, penyusun membagi materi dalam bebrapa
bab dan sub bab yang terdiri dari :
1. BAB
I : Pendahuluan, yang terdiri dari :
latar belakang, tujuan, manfaat dan sistematika.
2. BAB
II : Pengertian Pengorganisasian Pelayanan Keperawatan, Konsep Pengorganisasian, Prinsip Pengorganisasian ,
Tangung jawab perawat dalam Pengorganisasian
Pelayanan Keperawatan, dan Metode dalam Pengorganisasian Pelayanan Keperawatan
3. BAB
III : Penutup, yang terdiri
dari : kesimpulan dan saran
BAB II
Tinjauan
Teoritis
A. Pengertian
Pengorganisasian adalah
proses pengelompokan orang, alat-alat, tugas-tugas, kewenangan dan tanggung
jawab yang seimbang dan sesuai dengan rencana operasional sehingga suatu
organisasi dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka mencapai tujuan
yang telah ditetapkan (Subur, 1997).
Pengorganisasian meliputi
proses memutuskan tingkat organisasi yang diperlukan untuk objektif divisi
keperawatan, departemen, pelayanan atau unit. Setiap unit harus melalui tipe
pekerjaan, yang langsung dilakukan terhadap klien, macam perawat sesuai denan
pekerjaan, serta jumlah pengelola atau supervisi yang diperlukan (Swanburg,
2000).
Proses pengorganisasian dapat dirinci
sebagai berikut :
1.
Memahami tujuan
2.
Menetapkan tugas pokok dan merincikegiatan
3.
Mengelompokkan tugas / jabatan
4.
Menyusun struktur organisasi dan departementasi
5.
Menyusun otorotas organisasi
6.
Mengisi jabatan / staffing
7.
Fasilitating
B. Konsep pengorganisasian
Dalam menganalisa pengaruh
pola organisasi pada sifat dasar komunikasi antara para pekerja, perlu untuk
mengerti konsep sebagai berikut :
1. Peran
Peran diartikan sebagai suatu set perilaku
dan sikap yang diharapkan dari seseorang oleh mereka yang berinteraksi
dengannya. Peran seseorang diartikan pleh harapan-harapan orang lain, individu
tersebut sangat bergantung pada harapan mereka bagi aspek identitas pribadinya.
Sepanjang hidupnya seseorang memgang serangkaian peran, yang berubah dengan
perubahan keadaan hidupnya. Sebagai pekerja sebuah departemen keperawatan,
perawat dapat memegang bebrapa peran jabatan pada waktu yang sama. Kepala
perawat tertentu merupakan bawahan bagi atasannya, seorang supervisor bagi
staff perawatnya, rekan kerja kepala perawat lainnya dan mungkin kepala panitia
atau konsultan bagi para pekerja di divisi lain dalam organisasinya. Kerena
perbedaan sikap dan perilaku diperlukan dalam pelaksanaan masing-masing peran,
kepala perawat yang telah diuraikan di atas harus sering “mengubah seragam”
selama hari kerjanya, penyesuaian dan penyesuaian ulang ekspresi wajah, bahasa
tubuh, nada suara dan bahasa untuk memenuhi harapan pihak yang berkepentingan
lainnya yang telah mengartikan setiap peran.
2. Kekuasaan
Kekuasaan merupakan kemampuan untuk
mempengaruhi orang lain agar bersikap sesuai dengan harapan seseorang. Karena
kekuasaan tunbuh dari interaksi manusia, kekuasaan tidak bersifat statis,
tetapi terus menerus berubah. Perolehan kekuasaan oleh perawat perorangan
tampaknya memudahkan perolehan kekuasaan yang lebih besar dalam situasi yang
sama. Kemungkinan karena meningkatnya jumlah komunikasi dengan yang lain atau
perubahan dalam kualitas komuikasi tersebut. Begitu juga sebaliknya, kehilangan
kekuasaan seorang pekerja bisa mengubah hubungan timbal baliknya dengan yang
lian sehingga membuatnya terus-menerus kehilangan kekuasaan seiring berjalannya
waktu.
Kekuasaan terdiri dari berbagai jenis,
yaitu :
a.
Kekuasaan memberikan penghargaan (Reward Power)
Adalah
kesanggupan untuk memberikan penghargaan terhadap yang lain
b.
Kekuasaan paksaan (coercive power) adalah kesanggupan untuk menerapkan
hukuman kepada yang lain. Manajer perawat dapay menghukum seorang pegawai
melalui penurunan pangkat, scor, atau pemecatan.
c.
Kekuasaan referensi (referen power) adalah kemampuan mengilhami
kebanggaan tertentu pada yang lain sehingga mereka berharapa untuk
mengidentifikasikan diri mereka sendiri dengan objek kekaguman mereka,
d.
Kekuasaan ahli (expert power) adalah kemampuan untuk meyakinkan yang
lain supay seseorang memiliki derajat pengetahuan dan keahlian tinggi dalam
area spesialisasi.
3. Status
Konsep status berhubungan erat dengan
kekuasaan. Status dapat diartikan sebagai urutan penganugerahan suatu kelompok
kepada seseorang yang sesuai dengan penilaian mereka atas pekerjaan dan
sumbangsihnya. Derajat status yang diberikan kepada pekerjaan tertentu erat
kaitannya dengan jarak dari hierarki organisasi tingkat atas, jumlah keahlian
yang diperlukan dalam melaksanakan tugas tersebut, derajat pelatihan khusus,
atau pendididkan yang diperlukan bagi posisi tersebut, tingkat tanggung jawab
dan otonomi yang diharapkan dalam pelaksanaan kerja dan gaji yang didapat dari
jabatan tersebut. Status masing masing perawat tergantung pada posisi dari
departemen kesehatan dalam tabel organisasi unit kerjanya. Status sebuah
kelompok dikaitkan dengan kemampuannya dalam mendapatkan sumberdaya yang
dibutuhkan untuk mencapai tujuan kelompok. Kebanyakan perawat percaya bahwa
tujuan keperawatan bagi perawatan klien dan kesembuhannya sama pentingnya
dengan kesejahteraan klien seperti juga dengan tujuan pengobatan medis atau
tujuan administrasi keuangannya.
4. Wewenang
Konsep wewenang secra berbelit-belit
dihubungkan dengan konsep tanggung jawab. Jabat pada hierarki keperawatan
puncak dihubungkan dengan lapisan atas dari tanggung jawab dan wewenang. Jadi
sttus yang tinggi dihubungkan dengan wewenang, yang memberi status pekerjaan
tinggi bagai manapun dapat diserahkan pada jabatan dilapisan rendah struktur
organisasi.
5. Kepusatan (centrality)
Konsep sentralisasi/kepusatan organisasi
mengacu pada kenyataan bahwa beberapa jabatan ditempatkan sedemikian rupa dalam
struktur organisasi sehingga melibatkan isi pememgang jabatan kedalam seringnya
komunikasi dengan sejumlah besar pekerja lainnya. Sebaliknya, jabatan lainnya
ditempatkan sedemikian rupa sehingga terjadi sedikit komunikasi di antara
pemegang jabatan dengan yang lainnya. Dengan menggunakan skema orgnisasi
lembaga tersebut, adalah mungkin untuk menghitung jumlah langkah atau
pertukaran pembicaraan yang diperlukan guna menyampaikan informasi kepada
jabatan yang diberikan dari setiap posisi lain dalam jaringan kerja tersebut.
Jumlah langkah bagi orang atau jabatan tertentu disebut total jarak organisasi.
Penambahan jarak perseorangan bagi semua pegawai dalam organisasi dan
membaginya dalam jumlah pegawai akan menghasilkan jarak rata-rata organisasi
(average organizational distance) bagi semua jabatan dalam struktur itu. Dengan
membandingkan total jarak organisasi seseorang dengan jarak rata-rata bagi
seluruh struktur, seseorang dapat menentukan setiap jarak relatif organisasi
(relative organizational distance) pegawai. Para pegawai dengan jarak relatif organisasi
yang terkecil adalah yang paling pokok dalam struktur tersebut. Mereka
lebih banyak menerima informasi yang berhubungan dengan kerja di banding
pekerja pokok. Terhadap pekerja yang berpengetahuan, informasi adalah bahan
mentah untuk produksi. Karena pekerja yang lebih terpusat secara organisasi
seharusnya lebih produktif dibanding pekerja yang kurang terpusat.
6.
Komunikasi ( Communication
)
Semua pekerjaan dalam
sebuah kelompok manusia dilakukan melalui dan karena komunikasi antar pekerja.
Komunikasi biasa diartikan sebagai pengiriman informasi dan opini antar
manusia. Diperlukan pendahuluan pesan oleh si pengirim dan persepsi pesan yang
sama oleh si penerima pesan. Kebanyakan ahli komunikasi percaya bahwa
penangkapan pesan tersebut merupakan aspek yang lebih kritis dari proses dan
usaha memperbaiki kualitas serta akurasi komunikasi sebaiknya dimulai dengan
mengajari manusia bagaimana mendengar secara bersungguh - sungguh dan kritis
terhadap semua aspek pesan yang dikirim. Adalah mungkin untuk melatih pengirim
pesan agar mengatur, mengulang, dan merangkum informasi sehingga memaksimalkan
pengertian oleh si penerima pesan. Pengirim pesan dapat diajari
memperkuat isi verbal setiap pesan dengan ekspresi yang sesuai dan gerak
isyarat untuk menekankan konsep kunci serta untuk mendapatkan masukan dari si
penerima pesan sebagai tanda atas keefektifan komunikasi. manusia bagaimana mendengar
secara bersungguh - sungguh dan kritis terhadap semua aspek pesan yang dikirim.
Adalah mungkin untuk melatih pengirim pesan agar mengatur, mengulang, dan
merangkum informasi sehingga memaksimalkan pengertian oleh si penerima pesan.
Pengirim pesan dapat diajari memperkuat isi verbal setiap pesan dengan
ekspresi yang sesuai dan gerak isyarat untuk menekankan konsep kunci serta untuk
mendapatkan masukan dari si penerima pesan sebagai tanda atas keefektifan
komunikasi.
C.
Prinsip - prinsip pengorganisasian
Untuk mencapai tujuan dalam
pengorganisasian diperlukan prinsip - prinsip sebagai berikut
1.
Prinsip rantai komando
Rantai
komando menyatakan bahwa untuk memuaskan anggota, efektif secara ekonomis dan
berhasil dalam mencapai tujuan mereka, organisasi dibuat dengan hubungan
hierarkis dalam alur autoritas dari atas ke bawah. Prinsip ini mendukung
struktur mekanistis dengan autoritas sentral yang mensejajarkan autoritas dan
tanggung jawab. Komunikasi terjadi sepanjang rantai komando dan cenderung satu
arah ke bawah. Pada organisasi keperawatan modern, rantai komando ini adalah
datar, dengan garis menejer dan staf teknis serta administrasi yang mendukung
stap perawat teknis.
2. Prinsip
kesatuan komando
Kesatuan
komando menyatakan bahwa seorang pekerja mempunyai satu penyelia dan terdapat
satu pimpinan dan satu rencana untuk kelompok aktifitas dengan obyektif yang
sama. Prinsip ini masih diikuti pada kebanyakan organisasi keperawatan tetapi
masih terus dimodifikasi dengan memunculkan teori organisasi. Keperawatan
primer dan manajemen kasus mendukung prinsip kesatuan komando ini, seperti juga
praktek bersama.
3. Prinsip
rentang kontrol
Rentang
kontrol menyatakan bahwa individu harus menjadi penyelia suatu kelompok bahwa
ia dapat mengawasi secara efektif dalam hal jumlah, fungsi, dan geografi.
Prinsip asal ini telah menjadi elastis makin sangat terlatih pekerja makin
kurang pengawasan yang diperlukan. Pekerja dalam masa latihan memerlukan lebih
banyak pengawasan untuk mencegah terjadinya kesalahan. Bila digunakan tingkat
yang berbeda dari pekerja keperawatan, menejer perawat harus lebih banyak
mengkoordinasikan.
4.
Prinsip spesialisasi
Spesialisasi
menyatakan bahwa setiap orang harus dapat menampilkan satu fungsi kepemimpinan
tunggal. Sehingga ada divisi tenaga kerja : suatu perbedaan di antara berbagai
tugas. Spesialisasi dianggap oleh kebanyakan orang menjadi cara terbaik untuk
menggunakan individu dan kelompok. Rantai komando menggabungkan kelompok
-kelompok dengan spesialitas yang menimbulkan fungsi departementalis.
5. Prinsip
pembagian kerja
Merupakan
perincian dan pengelompokan aktifitas yang semacam atau erat hubungannya satu
sama lain yang dilakukan oleh suatu bagian atau unit kerja tertentu. Prinsip
dasarnya adalah untuk mencapai efisiensi pelaksanaan kerja dimana orang
mengerjakan kegiatan tertentu sesuai dengan kemampuannya. Hal - hal yang harus
diperhatikan dalam pembagian kerja adalah :
a.
Setiap unit kerja mempunyai
perincian tugas dan aktifitas yang akan
dilakukan, secara jelas dan tegas.
b.
Setiap staf atau anggota
organisasi harus memiliki perincian tugas, tanggung jawab dan wewenang.
c.
Beban tugas yang diberikan
kepada staf atau unit organisasi harus sesuai dengan kemampuan.
d.
Variasi tugas yang
diberikan hendaknya diusahakan yang sejenis atau erat hubungannya satu sama
yang lain.
e.
Penempatan staf harus tepat
dan sesuai.
f.
Penambahan atau pengurangan
tenaga harus berdasarkan beban kerja.
Dalam pembagian kerja ada
beberapa dasar yang perlu diperhatikan yang dapat dipakai sebagai pedoman :
a.
Pembagian kerja atas dasar
wilayah atau teritorial, misalnya koordinator perawatan yang berada di lantai
dua rumah sakit yang terdiri dari ruang penyakit dalam kelas dua, ruang bedah
umum kelas dua, dan sebagainya.
b.
Pembagian kerja atas jenis
barang atau jasa yang diproduksi. Misalnya koordinator asuhan keperawatan ruang
unit bedah, koordinator pendidikan keperawatan, koordinator pengendalian mutu
pelayanan keperawatan.
c.
Pembagian kerja berdasarkan
waktu / shift pagi, siang, dan malam.
d.
Pembagian atas dasar
konsumer yang dilayani, misalnya perawat yang khusus merawat klien dengan
penyakit kulit, THT, dan lain – lain.
e.
Prinsip pendelegasian Pendelegasian adalah pelimpahan
wewenang atau kekuasaan. Kekuasaan merupakan hak seseorang untuk mengambil
tindakan yang perlu agar tugas dan fungsinya dapat dilaksanakan dengan baik.
Wewenang atau kekuasaan itu terdiri dari berbagai aspek antara lain wewenang
mengambil keputusan , menggunakan sumber daya, memerintah, dan menggunakan
batas waktu tertentu.
Adapun
manfaat pendelegasian adalah :
1)
Pimpinan dapat melakukan
tugas pokok saja.
2)
Setiap staf atau perawat
memiliki wewenang sesuai dengan tugasnya.
3)
Meningkatkan kemampuan
staf.
4)
Kegiatan tetap berjalan
walaupun pimpinan tidak ada.
5)
Pelatihan dan kaderisasi
untuk meningkatkan jenjang karir.
Dalam melakukan
pendelegasian seorang pimpinan hendaknya memperhatikan kemampuan orang yang
diberi wewenang atau pendelegasian, memperhatikan pendapat orang yang diberi
wewenang, melakukan bimbingan, menggerakkan dan melakukan pengontrolan.
Prinsip - prinsip
organisasi yang telah disebutkan di atasadalah saling ketergantungan dan
dinamis bila digunakan oleh manajer perawat untuk menciptakan lingkungan yang
merangsang dalam praktek keperawatan klinis.
Dalam keperawatan,
pengorganisasian pelayanan keperawatan dilaksanakan dengan cara ( Burgess 1988
& Gillies 1988 ) :
- Fungsional
/ penugasan
Yaitu pembagian tugas untuk perawat
yang dilakukan oleh kepala ruangan masing - masing mempunyai tugas khusus.
2. Alokasi
pasien
Yaitu pengorganisasian
pelayanan keperawatan untuk beberapa klien / satu klien oleh satu perawat
saat berjaga.
- Perawatan
group / team nursing
Yaitu pelayanan lapangan dimana
sekelompok perawat memberikan pelayanan keperawatan kepada sekelompok klien,
kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijasah dan berpengalaman.
- Pelayanan
keperawatan utama
Yaitu pengorganisasian dalam pelayanan
keperawatan sehingga satu orang primary nursing dalam 24 jam bertanggung jawab
pada klien yang di bawah tanggung jawabnya dari masuk RS sampai pulang.
5.
Struktur organisasi Rumah
Sakit di Indonesia
Struktur
organisasi rumah sakit dan lembaga - lembaga yang berkaitan dengan rumah sakit
tidak dapat digambarkan secara seragam.
Tapi
beberapa hal tentang struktur organisasi tersebut dapat dipaparkan sebagai
berikut :
a.
Struktur organisasi Depkes
RI
b. Kaitan organisasi RSUD
dengan Depkes RI dan Depdagri
c. Organisasi RS Swasta
d.
RS Pemerintah
Struktur organisasi dan
tata kerja RSU pemerintah diatur dalam SK Menkes RI No. 134 / Menkes / SK / IV/
78 tahun 1978 yang berlaku untuk RS Umum kelas A, B, dan C yang dapat
digambarkan sebagai berikut :
Rincian tugas :
1.
Direktur rumah sakit
mempunyai tugas : memimpin, mengawasi, dan mengkoordinasikan tugas - tugas
rumah sakit sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Direktur rumah sakit dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh :
a.
Unsur bantuan kepemimpinan
: para wakil direktur
b.
Unsur bantuan administrasi
: kepala bagian sekretariat
c.
Unsur bantuan pelaksanaan
fungsional : para kepala bidang
d.
Unsur bantuan pelaksanaan
keuangan : bidang keuangan
Unsur bantuan fungsional :
kepala unit pelaksana fungsional.
2.
Bagian sekretariat
mempunyai tugas :
a.
Mempersiapkan dan menyusun
program laporan mengenai kegiatan semua satuan organisasi dalam lingkungan RS
b.
Melakukan pengelolaan
pegawai urusan ketata – usahaan
c.
Melakukan ketata -
usahaan penderita rawat inap
d.
Melaksanakan pencatatan
medis
3.
Instalasi
Bertugas sebagai penunjang
UPF, yang meliputi :
a.
Farmasi
b.
Patologi
c.
Laboratorium
d.
Pemeliharaan RS
e.
Kamar jenasah
4.
Unit pelaksana
fungsional
Melakukan usaha pelayanan
kesehatan :
a.
Promotif
b.
Preventif
c.
Kuratif
d.
Rehabilitatif
e.
Rujukan
5.
Bidang - bidang
Bidang penunjang medis :
mengkoordinasikan seluruh kebutuhan unit - unit :
a.
unit anestesi dan perawatan
intensif
b.
unit pelayanan darurat
medis
c.
unit radiologi
d.
unit pelayanan rehabilitasi
6.
Instalasi
Bidang pelayanan medis :
mengkoordinasikan seluruh unit pelaksana fungsional yang langsung atau tidak
langsung memperlancar kegiatan pelayanan kegiatan pada UPF.
7.
Bidang pendidikan dan latihan mempunyai tugas :
a.
Mengatur dan
mengkoordinasikan pendidikan dan latihan dokter, dokter ahli, dan paramedis.
b.
Melaksanakan penataran
medis dan paramedis dalam rangka sistem rujukan.
c.
Melaksanakan kegiatan
perpustakaan
8.
Bidang keuangan mempunyai tugas :
a.
Mempersiapkan dan menyusun
anggaran pendapatan dan belanja, pertanggung jawaban keuangan .
b.
Melakukan tata usaha
keuangan, pengelolaan bendahara.
c.
Pengelolaan penerimaan,
pembukuan penyetoran ke kas negara dan pertanggung jawaban keuangan yang
diperoleh dari pelayanan RS.
D.
Tanggung
Jawab Perawat dalam Manjemen Pelayanan Keperawatan
Memperjelas aspek-aspek
yang membedakan praktik keperawatan profesional dari praktik perawatan yang
diberikan oleh orang yang tidak mempunyai kualifikasi keperawatan profesional.
Adapun peran dan fungsi perawat secara umum sebagai berikut:
1. Perencanaan keperawatan untuk
masing-masing klien.
2.
Pemberian perawatan langsung.
3.
Indentifikasi waktu yang tepat
untuk melaksanakan pelayanan keperawatan pada klien oleh tenaga yang tidak
memiliki kualifikasi perawatan profesional.
4.
Mempersiapkan dan mendukung
tenaga yang tidak memiliki kualifikasi keperawatan profesional untuk
melaksanakan aktivitas yang diserahkan kepada mereka oleh perawat profesional.
5.
Manajemen dan sumber daya
manusia, perlengkapan dan pelayanan yang efektif dan efisien langsung
dikendalikan atau diambil alih oleh perawat profesional.
6. Pembentukan standar, audit keperawatan dan
audit klinik.
Untuk secara spesifik kami menemukan beberapa
peran dan fungsi dari perawat dalam manajememn keperawatan, yaitu sebagai
berikut.
a.
Peran
1)
Pelaksana Pelayanan Keperawatan Perawat
bertanggung-jawab dalam memberikan pelayanan keperawatan dari yang bersifat
sederhana sampai pada yang paling kompleks kepada klien, keluarga, kelompok dan
masyarakat.
2)
Pengelola dalam bidang
Pelayanan Keperawatan Tenaga keperawatan secara fungsional mengelola
pelayanan keperawatan termasuk perlengkapan, peralatan dan lingkungan.Disamping
itu membimbing petugas kesehatan yang berpendidikan lebih rendah,
bertanggung-jawab dalam hal administrasi keperawatan baik di masyarakat maupun
di dalam institusi dalam mengelola pelayanan keperawatan untuk klien, keluarga,
kelompok dan masyarakat.
3)
Pendidik Pelayanan
Keperawatan Tenaga Keperawatan bertanggung jawab dalam hal pendidikan dan
pengajaran ilmu keperawatan dasar bagi tenaga kesehatan lainnya dan tenaga
anggota keluarga.
b.
Fungsi
Tenaga keperawatan diharapkan dapat
melaksanakan fungsi (pada klien-klien yang dirawat) sebagai berikut :
1)Menentukan kebutuhan kesehatan klien dan mendorong klien untuk
berperan serta di dalam memenuhi kebutuhan kesehatannya.
2)
Memberikan penyuluhan kesehatan
mengenai kebersihan perorangan, kesehatan lingkungan, kesehatan mental, gizi,
kesehatan ibu dan anak, pencegahan penyakit dan kecelakaan.
3)
Memberikan Asuhan Keperawatan
kepada klien yang meliputi perawatan darurat,serta bekerjasama dengan dokter
dalam program pengobatan
4)
Melaksanakan rujukan terhadap
kasus-kasus yang tidak dapat ditanggulangi dan menerima rujukan dari organisasi
kesehatan lainnya.
5) Melaksanakan pencatatan pelaporan asuhan
Keperawatan.
Sebagai penjabaran dari fungsi maka tugas
tenaga keperawatan adalah :
1)
Memelihara kebersihan dan
kerapihan di dalam ruangan
2)
Menerima klien baru
3)
Melaksanakan asuhan keperawatan
dengan menggunakan metode proses keperawatan
4)
Mempersiapkan klien keluar
5)
Membimbing dan mengawasi
pekarya kesehatan dan pekarya rumah tangga
6)
Mengatur tugas jaga
7)
Mengelola peralatan medik dan
keperawatan, bahan habis pakai dan obat
8)
Mengelola administrasi
E. Metode Pemberian Asuhan
Keperawatan
Berikut ini merupakan metode
penugasan yang tengah berkembang saat ini:
1. Metode
Fungsional
Metode
fungsional yaitu metode penugasan dimana seorang perawata hanya melakukan satu
sampai dua jenis intervensi. Metode ini banyak dipakai saat perang dunia kedua.
Ketika perang dunia kedua metode ini banhyak dipakai karena jumlah perawat
serta kemampuan perawat masih terbatas.
Gambar 1 : Sistem pemberian asuhan Keperawatan Fungsional (Marquis dan
Huston, 1998)
Kelebihan metode
penugasan fungsional adalah sebagai berikut:
1)
Managemen
klasik yang menekankan efisiensi, pembagian tugas yang jelas dan pengawasan
nyang baik.
2)
Baik
diguanakan dalam kondisi keterbatasan tenaga perawat.
Kelemahan
:
1)
Tidak
memberikan kepuasan pada pasien maupun perawat.
2)
Pelayanan
keperawatan terpisah-pisah, tidak dapat menerapkan proses keperawatan.
3)
Persepsi
perawat cenderung kepada tindakan yang berkaitan dengan ketrampilan saja.
2. Metode
penugasan Tim
Metode pemberian asuhan keperawatan
dimana seorang perawat professional memimpin sekelompok tenaga keperawatan
dengan berdasarkan konsep kooperatif & kolaboratif (Douglas, 1992). Metode
ini bertujuan untuk: memfasilitasi pelayanan keperawatan; menerapkan proses
keperawatan standard; dan menyatukan kemampuan anggota tim yang beragam. Konsep
dari metode ini adalah ketua tim sebagai perawata professional harus mampu
menggunakan berbagai teknik kepemimpinan. Komunikasi juga merupakan hal yang
sangat penting dalam metode ini, anggota tim harus menghargai kepemimpinan
ketuan. Selai itu peran kepala ruang sangat penting dalam model tim in
![]() |
|||||
![]() |
![]() |
![]() |
|||
![]() |
![]() |
![]() |
|||
L
Gambar 2
: Sistem pemberian asuhan keperawatan “ Team Nursing “ (Marquis
dan
Huston, 1998)
3.
Metode Primer
Metode
penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab penuh selama 24 jam
terhadap asuhan keperawatan pasien mulai dari masuk sampai keluar rumah sakit.
Mendorong praktek kemandirian perawat, ada kejelasan antara pembuat perencana
asuhan dan pelaksana. Metode primer ini ditandai dengan adanya keterkaitan kuat
dan terus menerus antara pasien dengan perawat yang ditugaskan untuk
merencanakan, melakukan, dan koordinasi asuhan keperawatan selama pasien
dirawat.
Konsep
dasar metode primer :
1) Ada
tanggungjawab dan tanggunggugat
2) Ada
otonomi
3) Ketertiban
pasien dan keluarga
Kelebihannya
:
1) Model
praktek profesional
2) Bersifat
kontinuitas dan komprehensif
3) Perawat
primer mendapatkan akontabilitas yang tinggi terhadap hasil dan memungkinkan
pengembangan diri →
kepuasan perawat
4) Klien/keluarga lebih mengenal siapa
yang merawatnya
Kelemahannya :
1) Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang
memiliki pengalaman danpengetahuan yang memadai dengan kriteria asertif, self
direction,kemampuan mengambil keputusan yang tepat, menguasai
keperawatanklinik, akontable serta mampu berkolaborasi dengan berbagai
disiplin.
2) Biaya lebih besar
![]() |
Gambar 3 : Diagram sistem asuhan keperawatan “
Primary Nursing “ (Marquis dan Huston, 1998)
4.
Metode Kasus
Setiap pasien ditugaskan kepada semua perawat yang
melayani seluruh kebutuhannya pada saat ia dinas. Pasien akan dirawat oleh
perawat yang berbeda untuk setiap shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan
dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Metode penugasan kasus biasa
diterapkan satu pasien satu perawat, umumnya dilaksanakan untuk perawat privat
atau untuk perawatan khusus seperti : isolasi, intensive care.
Kelebihan :
1) Perawat lebih memahami kasus per kasus
2) Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih
mudah
Kekurangan :
1) Belum dapatnya diidentifikasi perawat
penanggungjawab
2) Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai
kemampuan dasar yang sama
![]() |
Gambar 4 : Sistem sistem asuhan keperawatan “
Case Method Nursing “
(Marquis dan Huston, 1998)
Agar metode metode diatas dapat di
jalankan dengan baik maka masing-masing pihak harus menge tahui peran dan
ttanggung jawab masing-masing, berikut
merupakan tanggung jawab masing –masing peran.
1) Tanggung Jawab Karu :
a) Menetapkan standar kinerja yang diharapkan dari
staf
b) Membantu staf menetapkan sasaran dari ruangan
c) Memberi kesempatan katim untuk mengembangkan
keterampilan kepemimpinandan managemen
d) Mengorientasikan tenaga baru
e) Menjadi narasumber bagi tim
f) Mendorong kemampuan staf untuk menggunakan
riset keperawatan
g) Menciptakan iklim komunikasi terbuka
2) Tanggung
Jawab Katim :
a) Melakukan orientasi kepada pasien baru
& keluarga
b) Mengkaji setiap klien, menganalisa,
menetapkan rencana keperawatan (renpra), menerapkan tindakan keperawatan dan
mengevaluasi renpra
c) Mengkoordinasikan renpra dengan
tindakan medis melalui komunikasi yang konsisten
d) Membagi tugas anggota tim dan
merencanakan kontinuitas asuhan keperawatan melalui konfrens
e) Membimbing dan mengawasi pelaksanan
asuhan keperawatan oleh anggota tim
f) Bertanggung jawab terhadap kepala ruangan
3) Tanggung Jawab Anggota Tim :
a) Melaksanakan perawatan sesuai renpra yang dibuat katim
b) Memberikan perawatan total/komprehensif
pada sejumlah pasien
c) Bertanggung jawab atas keputusan
keperawatan selama katim tidak ada di tempat
d) Berkontribusi terhadap perawatan
·
observasi terus menerus
·
ikut ronde keperawatan
·
berinterkasi dgn pasien & keluarga
·
berkontribusi dgn katim/karu
bila ada masalah
BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Fungsi manajemen keperawatan dalam organisasi
adalah mengembangkan seseorang. Hal tersebut berjalan bilamana perawat
mau belajar dan menggunakan ilmu yang ditunjukkan oleh pengalaman dan
penelitian yang dikembangkan agar fungsi organisasi dalam manajemen keperawatan
semakin berkembang.
Perawat manajer perlu bekerja untuk struktur
organisasi ideal. Mereka harus membangun, menguji, mengakui kesalahan,
berkompromi, dan menerima. Mereka harus merancang organisasi yang sederhana
untuk menyelesaikan pekerjaan. Organisasi adalah produktif jika orang
memberikan perhatian yang memenuhi kebutuhan klien dan setiap karyawan
merasakan kepuasan.
Perawat dalam memberikan pelayanan
keperawatan kepada klien tidak dapat bekerja sendiri, tetapi harus bekerja sama
dengan tim kesehatan lain untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi
klien. Kerja sama antar perawat dengan tim kesehatan tersebut harus ditata
sehingga menghasilkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, penataan yang
dimaksud adalah pengorganisasian segala sumber yang dapat dimanfaatkan untuk
mencapai tujuan pelayanan keperawatan.
B. Saran
Semoga perawat dapat memahami tentang
pengorganisasian pelayanan keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Gillies, D. A. ( 1989 ). Nursing
Management, A System Approach.WB Saunders Company. Philadelphia.
2.
Prayitno, Subur. ( 1997 ). Dasar - dasar
administrasi kesehatan masyarakat. Airlangga University Press. Surabaya.
3.
Prayitno, Subur. ( 2000 ). Administrasi
Rumah Sakit di Indonesia. FKUA. Surabaya.
4.
Sullivan, E.J.et al. ( 1990 ). Management
and Leadership for Nurse Manager. Jones and Barlett Publisher. Boston.
5. Swanburg,
C Russel. ( 2000 ). Pengantar Kepemimpinan dan Manjemen Untuk Perawat
Klinis. EGC. Jakarta.
7:12 AM
Student of Nurse





0 comments :
Post a Comment