Thursday, September 6, 2018


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Manajemen merupakan proses penatalaksanaan kegiatan oraganisasi melalui upaya orang lain mencapai tujuan bersama. Sedangakan manajemen keperawatan merupakan pengalokasian aktifitas keperawatan yang dilaksanakan oleh para perawat dalam upaya memberikan pelayanan kperawatan yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.
Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan tidak dapat bekerja sendiri, tetapi harus bekerja sama dengan tim kesehatan lain untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi klien. Kerjasama tersebut harus ditata sehingga mengjasilkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, penataan yang dimaksud adalah pengorganisasian segala sumber yang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan pelayanan keperawatan,
Pengorganisasian adalah langkah kedua dalam manajemen yang sangat penting dilakukan oleh setiap unit kerja / unit organisasi (Subur, 1997). Pengorganisasian dalam keperawatan dimaksudkan untuk mengelompokkan aktifitas-aktifitas dengan sasaran untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Penugasan masing-masing kelompok diberikan kepada pimpinan yang diberi wewenang untuk mengawasi sekaligus melakukan koordinasi dengan unit lain baik secara horizontal maupun vertikal.
B. Rumusan Masalah
Adapun masalah yang dibahas dalam makalah ini, yaitu sebagai berikut:
1.    Apa pengertian Manajemen Pengorganisasian  Pelayanan Keperawatan?
2.    Bagaimana tangung Jawab Perawat dalam manajemen Pengorganisasian Pelayanan Keperawatan ?
3.    Apa Metode Pengorganisasian Pelayanan Keperawatan ?

C. Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian Pengorganisasian  Pelayanan Keperawatan
2.    Untuk mengetahui tanggung jawab perawat dalam Pengorganisasian  Pelayanan Keperawatan
3.    Untuk mengetahui Metode dalam Pengorganisasian  Pelayanan Keperawatan

D. Sistematika Penulisan
            Dalam menyusun makalah ini, penyusun membagi materi dalam bebrapa bab dan sub bab yang terdiri dari :
1.    BAB I    : Pendahuluan, yang terdiri dari : latar belakang, tujuan, manfaat dan sistematika.
2.    BAB II : Pengertian Pengorganisasian  Pelayanan Keperawatan, Konsep Pengorganisasian, Prinsip Pengorganisasian , Tangung jawab perawat dalam Pengorganisasian  Pelayanan Keperawatan, dan Metode dalam Pengorganisasian  Pelayanan Keperawatan
3.    BAB III             : Penutup, yang terdiri dari : kesimpulan dan saran






















BAB II
Tinjauan Teoritis

A.    Pengertian
Pengorganisasian adalah proses pengelompokan orang, alat-alat, tugas-tugas, kewenangan dan tanggung jawab yang seimbang dan sesuai dengan rencana operasional sehingga suatu organisasi dapat digerakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Subur, 1997).
Pengorganisasian meliputi proses memutuskan tingkat organisasi yang diperlukan untuk objektif divisi keperawatan, departemen, pelayanan atau unit. Setiap unit harus melalui tipe pekerjaan, yang langsung dilakukan terhadap klien, macam perawat sesuai denan pekerjaan, serta jumlah pengelola atau supervisi yang diperlukan (Swanburg, 2000).
Proses pengorganisasian dapat dirinci sebagai berikut :
1.      Memahami tujuan
2.      Menetapkan tugas pokok dan merincikegiatan
3.      Mengelompokkan tugas / jabatan
4.      Menyusun struktur organisasi dan departementasi
5.      Menyusun otorotas organisasi
6.      Mengisi jabatan / staffing
7.      Fasilitating
B.  Konsep pengorganisasian
Dalam menganalisa pengaruh pola organisasi pada sifat dasar komunikasi antara para pekerja, perlu untuk mengerti konsep sebagai berikut :
1.      Peran
Peran diartikan sebagai suatu set perilaku dan sikap yang diharapkan dari seseorang oleh mereka yang berinteraksi dengannya. Peran seseorang diartikan pleh harapan-harapan orang lain, individu tersebut sangat bergantung pada harapan mereka bagi aspek identitas pribadinya. Sepanjang hidupnya seseorang memgang serangkaian peran, yang berubah dengan perubahan keadaan hidupnya. Sebagai pekerja sebuah departemen keperawatan, perawat dapat memegang bebrapa peran jabatan pada waktu yang sama. Kepala perawat tertentu merupakan bawahan bagi atasannya, seorang supervisor bagi staff perawatnya, rekan kerja kepala perawat lainnya dan mungkin kepala panitia atau konsultan bagi para pekerja di divisi lain dalam organisasinya. Kerena perbedaan sikap dan perilaku diperlukan dalam pelaksanaan masing-masing peran, kepala perawat yang telah diuraikan di atas harus sering “mengubah seragam” selama hari kerjanya, penyesuaian dan penyesuaian ulang ekspresi wajah, bahasa tubuh, nada suara dan bahasa untuk memenuhi harapan pihak yang berkepentingan lainnya yang telah mengartikan setiap peran.
2.      Kekuasaan
Kekuasaan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain agar bersikap sesuai dengan harapan seseorang. Karena kekuasaan tunbuh dari interaksi manusia, kekuasaan tidak bersifat statis, tetapi terus menerus berubah. Perolehan kekuasaan oleh perawat perorangan tampaknya memudahkan perolehan kekuasaan yang lebih besar dalam situasi yang sama. Kemungkinan karena meningkatnya jumlah komunikasi dengan yang lain atau perubahan dalam kualitas komuikasi tersebut. Begitu juga sebaliknya, kehilangan kekuasaan seorang pekerja bisa mengubah hubungan timbal baliknya dengan yang lian sehingga membuatnya terus-menerus kehilangan kekuasaan seiring berjalannya waktu.
Kekuasaan terdiri dari berbagai jenis, yaitu :
a.       Kekuasaan memberikan penghargaan (Reward Power)
Adalah kesanggupan untuk memberikan penghargaan terhadap yang lain
b.      Kekuasaan paksaan (coercive power) adalah kesanggupan untuk menerapkan hukuman kepada yang lain. Manajer perawat dapay menghukum seorang pegawai melalui penurunan pangkat, scor, atau pemecatan.
c.       Kekuasaan referensi (referen power) adalah kemampuan mengilhami kebanggaan tertentu pada yang lain sehingga mereka berharapa untuk mengidentifikasikan diri mereka sendiri dengan objek kekaguman mereka,
d.      Kekuasaan ahli (expert power) adalah kemampuan untuk meyakinkan yang lain supay seseorang memiliki derajat pengetahuan dan keahlian tinggi dalam area spesialisasi.

3.      Status
Konsep status berhubungan erat dengan kekuasaan. Status dapat diartikan sebagai urutan penganugerahan suatu kelompok kepada seseorang yang sesuai dengan penilaian mereka atas pekerjaan dan sumbangsihnya. Derajat status yang diberikan kepada pekerjaan tertentu erat kaitannya dengan jarak dari hierarki organisasi tingkat atas, jumlah keahlian yang diperlukan dalam melaksanakan tugas tersebut, derajat pelatihan khusus, atau pendididkan yang diperlukan bagi posisi tersebut, tingkat tanggung jawab dan otonomi yang diharapkan dalam pelaksanaan kerja dan gaji yang didapat dari jabatan tersebut. Status masing masing perawat tergantung pada posisi dari departemen kesehatan dalam tabel organisasi unit kerjanya. Status sebuah kelompok dikaitkan dengan kemampuannya dalam mendapatkan sumberdaya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan kelompok. Kebanyakan perawat percaya bahwa tujuan keperawatan bagi perawatan klien dan kesembuhannya sama pentingnya dengan kesejahteraan klien seperti juga dengan tujuan pengobatan medis atau tujuan administrasi keuangannya.
4.      Wewenang
Konsep wewenang secra berbelit-belit dihubungkan dengan konsep tanggung jawab. Jabat pada hierarki keperawatan puncak dihubungkan dengan lapisan atas dari tanggung jawab dan wewenang. Jadi sttus yang tinggi dihubungkan dengan wewenang, yang memberi status pekerjaan tinggi bagai manapun dapat diserahkan pada jabatan dilapisan rendah struktur organisasi.
5.      Kepusatan (centrality)
Konsep sentralisasi/kepusatan organisasi mengacu pada kenyataan bahwa beberapa jabatan ditempatkan sedemikian rupa dalam struktur organisasi sehingga melibatkan isi pememgang jabatan kedalam seringnya komunikasi dengan sejumlah besar pekerja lainnya. Sebaliknya, jabatan lainnya ditempatkan sedemikian rupa sehingga terjadi sedikit komunikasi di antara pemegang jabatan dengan yang lainnya. Dengan menggunakan skema orgnisasi lembaga tersebut, adalah mungkin untuk menghitung jumlah langkah atau pertukaran pembicaraan yang diperlukan guna menyampaikan informasi kepada jabatan yang diberikan dari setiap posisi lain dalam jaringan kerja tersebut. Jumlah langkah bagi orang atau jabatan tertentu disebut total jarak organisasi. Penambahan jarak perseorangan bagi semua pegawai dalam organisasi dan membaginya dalam jumlah pegawai akan menghasilkan jarak rata-rata organisasi (average organizational distance) bagi semua jabatan dalam struktur itu. Dengan membandingkan total jarak organisasi seseorang dengan jarak rata-rata bagi seluruh struktur, seseorang dapat menentukan setiap jarak relatif organisasi (relative organizational distance) pegawai. Para pegawai dengan jarak relatif organisasi yang  terkecil adalah yang paling pokok dalam struktur tersebut. Mereka lebih banyak menerima informasi yang berhubungan dengan kerja di banding pekerja pokok. Terhadap pekerja yang berpengetahuan, informasi adalah bahan mentah untuk produksi. Karena pekerja yang lebih terpusat secara organisasi seharusnya lebih produktif dibanding pekerja yang kurang terpusat.
6.      Komunikasi ( Communication )
Semua pekerjaan dalam sebuah kelompok manusia dilakukan melalui dan karena komunikasi antar pekerja. Komunikasi biasa diartikan sebagai pengiriman informasi dan opini antar manusia. Diperlukan pendahuluan pesan oleh si pengirim dan persepsi pesan yang sama oleh si penerima pesan. Kebanyakan ahli komunikasi percaya bahwa penangkapan pesan tersebut merupakan aspek yang lebih kritis dari proses dan usaha memperbaiki kualitas serta akurasi komunikasi sebaiknya dimulai dengan mengajari manusia bagaimana mendengar secara bersungguh - sungguh dan kritis terhadap semua aspek pesan yang dikirim. Adalah mungkin untuk melatih pengirim pesan agar mengatur, mengulang, dan merangkum informasi sehingga memaksimalkan pengertian oleh si penerima pesan. Pengirim pesan dapat diajari  memperkuat isi verbal setiap pesan dengan ekspresi yang sesuai dan gerak isyarat untuk menekankan konsep kunci serta untuk mendapatkan masukan dari si penerima pesan sebagai tanda atas keefektifan komunikasi. manusia bagaimana mendengar secara bersungguh - sungguh dan kritis terhadap semua aspek pesan yang dikirim. Adalah mungkin untuk melatih pengirim pesan agar mengatur, mengulang, dan merangkum informasi sehingga memaksimalkan pengertian oleh si penerima pesan. Pengirim pesan dapat diajari  memperkuat isi verbal setiap pesan dengan ekspresi yang sesuai dan gerak isyarat untuk menekankan konsep kunci serta untuk mendapatkan masukan dari si penerima pesan sebagai tanda atas keefektifan komunikasi.

C.    Prinsip - prinsip pengorganisasian 
Untuk mencapai tujuan dalam pengorganisasian diperlukan prinsip - prinsip sebagai berikut
1.      Prinsip rantai komando
Rantai komando menyatakan bahwa untuk memuaskan anggota, efektif secara ekonomis dan berhasil dalam mencapai tujuan mereka, organisasi dibuat dengan hubungan hierarkis dalam alur autoritas dari atas ke bawah. Prinsip ini mendukung struktur mekanistis dengan autoritas sentral yang mensejajarkan autoritas dan tanggung jawab. Komunikasi terjadi sepanjang rantai komando dan cenderung satu arah ke bawah. Pada organisasi keperawatan modern, rantai komando ini adalah datar, dengan garis menejer dan staf teknis serta administrasi yang mendukung stap perawat teknis.
2.      Prinsip kesatuan komando
Kesatuan komando menyatakan bahwa seorang pekerja mempunyai satu penyelia dan terdapat satu pimpinan dan satu rencana untuk kelompok aktifitas dengan obyektif yang sama. Prinsip ini masih diikuti pada kebanyakan organisasi keperawatan tetapi masih terus dimodifikasi dengan memunculkan teori organisasi. Keperawatan primer dan manajemen kasus mendukung prinsip kesatuan komando ini, seperti juga praktek bersama.
3.      Prinsip rentang kontrol
Rentang kontrol menyatakan bahwa individu harus menjadi penyelia suatu kelompok bahwa ia dapat mengawasi secara efektif dalam hal jumlah, fungsi, dan geografi. Prinsip asal ini telah menjadi elastis makin sangat terlatih pekerja makin kurang pengawasan yang diperlukan. Pekerja dalam masa latihan memerlukan lebih banyak pengawasan untuk mencegah terjadinya kesalahan. Bila digunakan tingkat yang berbeda dari pekerja keperawatan, menejer perawat harus lebih banyak mengkoordinasikan.
4.      Prinsip spesialisasi
Spesialisasi menyatakan bahwa setiap orang harus dapat menampilkan satu fungsi kepemimpinan tunggal. Sehingga ada divisi tenaga kerja : suatu perbedaan di antara berbagai tugas. Spesialisasi dianggap oleh kebanyakan orang menjadi cara terbaik untuk menggunakan individu dan kelompok. Rantai komando menggabungkan kelompok -kelompok dengan spesialitas yang menimbulkan fungsi departementalis.
5.      Prinsip pembagian kerja
Merupakan perincian dan pengelompokan aktifitas yang semacam atau erat hubungannya satu sama lain yang dilakukan oleh suatu bagian atau unit kerja tertentu. Prinsip dasarnya adalah untuk mencapai efisiensi pelaksanaan kerja dimana orang mengerjakan kegiatan tertentu sesuai dengan kemampuannya. Hal - hal yang harus diperhatikan dalam pembagian kerja adalah :
a.       Setiap unit kerja mempunyai perincian tugas dan  aktifitas  yang    akan dilakukan, secara jelas dan tegas.
b.      Setiap staf atau anggota organisasi harus memiliki perincian tugas, tanggung jawab dan wewenang.
c.       Beban tugas yang diberikan kepada staf atau unit organisasi harus sesuai dengan kemampuan.
d.      Variasi tugas yang diberikan hendaknya diusahakan yang sejenis atau erat hubungannya satu sama yang lain.
e.       Penempatan staf harus tepat dan sesuai.
f.       Penambahan atau pengurangan tenaga harus berdasarkan beban kerja.
Dalam pembagian kerja ada beberapa dasar yang perlu diperhatikan yang dapat dipakai sebagai pedoman :
a.       Pembagian kerja atas dasar wilayah atau teritorial, misalnya koordinator perawatan yang berada di lantai dua rumah sakit yang terdiri dari ruang penyakit dalam kelas dua, ruang bedah umum kelas dua, dan sebagainya.
b.      Pembagian kerja atas jenis barang atau jasa yang diproduksi. Misalnya koordinator asuhan keperawatan ruang unit bedah, koordinator pendidikan keperawatan, koordinator pengendalian mutu pelayanan keperawatan.
c.       Pembagian kerja berdasarkan waktu / shift pagi, siang, dan malam.
d.      Pembagian atas dasar konsumer yang dilayani, misalnya perawat yang khusus merawat klien dengan penyakit kulit, THT, dan lain – lain.
e.       Prinsip pendelegasian Pendelegasian adalah pelimpahan wewenang atau kekuasaan. Kekuasaan merupakan hak seseorang untuk mengambil tindakan yang perlu agar tugas dan fungsinya dapat dilaksanakan dengan baik. Wewenang atau kekuasaan itu terdiri dari berbagai aspek antara lain wewenang mengambil keputusan , menggunakan sumber daya, memerintah, dan menggunakan batas waktu tertentu.
Adapun manfaat pendelegasian adalah :
1)   Pimpinan dapat melakukan tugas pokok saja.
2)   Setiap staf atau perawat memiliki wewenang sesuai dengan tugasnya.
3)   Meningkatkan kemampuan staf.
4)   Kegiatan tetap berjalan walaupun pimpinan tidak ada.
5)   Pelatihan dan kaderisasi untuk meningkatkan jenjang karir.
Dalam melakukan pendelegasian seorang pimpinan hendaknya memperhatikan kemampuan orang yang diberi wewenang atau pendelegasian, memperhatikan pendapat orang yang diberi wewenang, melakukan bimbingan, menggerakkan dan melakukan pengontrolan.
Prinsip - prinsip organisasi yang telah disebutkan di atasadalah saling ketergantungan dan dinamis bila digunakan oleh manajer perawat untuk menciptakan lingkungan yang merangsang dalam praktek keperawatan klinis.
Dalam keperawatan, pengorganisasian pelayanan keperawatan dilaksanakan dengan cara ( Burgess 1988 & Gillies 1988 ) :
  1. Fungsional / penugasan
Yaitu pembagian tugas untuk perawat yang dilakukan oleh kepala ruangan masing - masing mempunyai tugas khusus.
2.      Alokasi pasien
Yaitu pengorganisasian pelayanan keperawatan untuk beberapa klien / satu klien oleh  satu perawat saat berjaga.
  1. Perawatan group / team nursing
Yaitu pelayanan lapangan dimana sekelompok perawat memberikan pelayanan keperawatan kepada sekelompok klien, kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijasah dan berpengalaman.
  1. Pelayanan keperawatan utama
Yaitu pengorganisasian dalam pelayanan keperawatan sehingga satu orang primary nursing dalam 24 jam bertanggung jawab pada klien yang di bawah tanggung jawabnya dari masuk RS sampai pulang.
5.      Struktur organisasi Rumah Sakit di Indonesia
Struktur organisasi rumah sakit dan lembaga - lembaga yang berkaitan dengan rumah sakit tidak dapat digambarkan secara seragam.
Tapi beberapa hal tentang struktur organisasi tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut :
a.       Struktur organisasi Depkes RI
b.      Kaitan organisasi RSUD dengan Depkes RI dan Depdagri
c.       Organisasi RS Swasta
d.      RS Pemerintah
Struktur organisasi dan tata kerja RSU pemerintah diatur dalam SK Menkes RI No. 134 / Menkes / SK / IV/ 78 tahun 1978 yang berlaku untuk RS Umum kelas A, B, dan C yang dapat digambarkan sebagai berikut :
Rincian tugas :
1.    Direktur rumah sakit mempunyai tugas : memimpin, mengawasi, dan mengkoordinasikan tugas - tugas rumah sakit sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Direktur rumah sakit dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh :
a.       Unsur bantuan kepemimpinan : para wakil direktur
b.      Unsur bantuan administrasi : kepala bagian sekretariat
c.       Unsur bantuan pelaksanaan fungsional : para kepala bidang
d.      Unsur bantuan pelaksanaan keuangan : bidang keuangan
Unsur bantuan fungsional : kepala unit pelaksana fungsional.
2.    Bagian sekretariat mempunyai tugas :
a.       Mempersiapkan dan menyusun program laporan mengenai kegiatan semua satuan organisasi dalam lingkungan RS
b.      Melakukan pengelolaan pegawai urusan ketata – usahaan
c.       Melakukan ketata -  usahaan  penderita rawat inap
d.      Melaksanakan pencatatan medis
3.    Instalasi
Bertugas sebagai penunjang UPF, yang meliputi :
a.       Farmasi
b.      Patologi
c.       Laboratorium
d.      Pemeliharaan RS
e.       Kamar jenasah
4.    Unit  pelaksana fungsional
Melakukan usaha pelayanan kesehatan :
a.       Promotif
b.      Preventif
c.       Kuratif
d.      Rehabilitatif
e.       Rujukan
5.    Bidang - bidang
Bidang penunjang medis : mengkoordinasikan seluruh kebutuhan unit - unit :
a.       unit anestesi dan perawatan intensif
b.      unit pelayanan darurat medis
c.       unit radiologi
d.      unit pelayanan rehabilitasi
6.    Instalasi
Bidang pelayanan medis : mengkoordinasikan seluruh unit pelaksana fungsional yang langsung atau tidak langsung memperlancar kegiatan pelayanan kegiatan pada UPF.
7.    Bidang pendidikan dan latihan mempunyai tugas :
a.       Mengatur dan mengkoordinasikan pendidikan dan latihan dokter, dokter ahli, dan paramedis.
b.      Melaksanakan penataran medis dan paramedis dalam rangka sistem rujukan.
c.       Melaksanakan kegiatan perpustakaan
8.    Bidang keuangan mempunyai tugas :
a.       Mempersiapkan dan menyusun anggaran pendapatan dan belanja, pertanggung jawaban keuangan .
b.      Melakukan tata usaha keuangan, pengelolaan bendahara.
c.       Pengelolaan penerimaan, pembukuan penyetoran ke kas negara dan pertanggung jawaban keuangan yang diperoleh dari pelayanan RS.



D.    Tanggung Jawab Perawat dalam Manjemen Pelayanan Keperawatan
Memperjelas aspek-aspek yang membedakan praktik keperawatan profesional dari praktik perawatan yang diberikan oleh orang yang tidak mempunyai kualifikasi keperawatan profesional. Adapun peran dan fungsi perawat secara umum sebagai berikut:
1.   Perencanaan keperawatan untuk masing-masing klien.
2.   Pemberian perawatan langsung.
3.   Indentifikasi waktu yang tepat untuk melaksanakan pelayanan keperawatan pada klien oleh tenaga yang tidak memiliki kualifikasi perawatan profesional.
4.   Mempersiapkan dan mendukung tenaga yang tidak memiliki kualifikasi keperawatan profesional untuk melaksanakan aktivitas yang diserahkan kepada mereka oleh perawat profesional.
5.   Manajemen dan sumber daya manusia, perlengkapan dan pelayanan yang efektif dan efisien langsung dikendalikan atau diambil alih oleh perawat profesional.
6.   Pembentukan standar, audit keperawatan dan audit klinik.

              Untuk secara spesifik kami menemukan beberapa peran dan fungsi dari perawat dalam manajememn keperawatan, yaitu sebagai berikut. 
a.    Peran
1)   Pelaksana Pelayanan Keperawatan Perawat bertanggung-jawab dalam memberikan pelayanan keperawatan dari yang bersifat sederhana sampai pada yang paling kompleks kepada klien, keluarga, kelompok dan masyarakat.
2)   Pengelola dalam bidang Pelayanan Keperawatan Tenaga keperawatan secara fungsional mengelola pelayanan keperawatan termasuk perlengkapan, peralatan dan lingkungan.Disamping itu membimbing petugas kesehatan yang berpendidikan lebih rendah, bertanggung-jawab dalam hal administrasi keperawatan baik di masyarakat maupun di dalam institusi dalam mengelola pelayanan keperawatan untuk klien, keluarga, kelompok dan masyarakat.
3)   Pendidik Pelayanan Keperawatan Tenaga Keperawatan bertanggung jawab dalam hal pendidikan dan pengajaran ilmu keperawatan dasar bagi tenaga kesehatan lainnya dan tenaga anggota keluarga.
b.    Fungsi
Tenaga keperawatan diharapkan dapat melaksanakan fungsi (pada klien-klien yang dirawat) sebagai berikut :
1)Menentukan kebutuhan kesehatan klien dan mendorong klien untuk berperan serta di dalam memenuhi kebutuhan kesehatannya.
2)      Memberikan penyuluhan kesehatan mengenai kebersihan perorangan, kesehatan lingkungan, kesehatan mental, gizi, kesehatan ibu dan anak, pencegahan penyakit dan kecelakaan.
3)      Memberikan Asuhan Keperawatan kepada klien yang meliputi perawatan darurat,serta bekerjasama dengan dokter dalam program pengobatan
4)      Melaksanakan rujukan terhadap kasus-kasus yang tidak dapat ditanggulangi dan menerima rujukan dari organisasi kesehatan lainnya.
5)      Melaksanakan pencatatan pelaporan asuhan Keperawatan.
Sebagai penjabaran dari fungsi maka tugas tenaga keperawatan adalah :
1)     Memelihara kebersihan dan kerapihan di dalam ruangan
2)     Menerima klien baru
3)     Melaksanakan asuhan keperawatan dengan menggunakan metode proses keperawatan
4)     Mempersiapkan klien keluar
5)     Membimbing dan mengawasi pekarya kesehatan dan pekarya rumah tangga
6)     Mengatur tugas jaga
7)     Mengelola peralatan medik dan keperawatan, bahan habis pakai dan obat
8)     Mengelola administrasi

E.  Metode Pemberian Asuhan Keperawatan
Berikut ini merupakan metode penugasan yang tengah berkembang saat ini:
1.      Metode Fungsional
Metode fungsional yaitu metode penugasan dimana seorang perawata hanya melakukan satu sampai dua jenis intervensi. Metode ini banyak dipakai saat perang dunia kedua. Ketika perang dunia kedua metode ini banhyak dipakai karena jumlah perawat serta kemampuan perawat masih terbatas.
Gambar 1 : Sistem pemberian asuhan Keperawatan Fungsional (Marquis dan
Huston, 1998)
Kelebihan metode penugasan fungsional adalah sebagai berikut:
1)      Managemen klasik yang menekankan efisiensi, pembagian tugas yang jelas dan pengawasan nyang baik.
2)      Baik diguanakan dalam kondisi keterbatasan tenaga perawat.
Kelemahan :
1)      Tidak memberikan kepuasan pada pasien maupun perawat.
2)      Pelayanan keperawatan terpisah-pisah, tidak dapat menerapkan proses keperawatan.
3)      Persepsi perawat cenderung kepada tindakan yang berkaitan dengan ketrampilan saja.
2.      Metode penugasan Tim
Metode pemberian asuhan keperawatan dimana seorang perawat professional memimpin sekelompok tenaga keperawatan dengan berdasarkan konsep kooperatif & kolaboratif (Douglas, 1992). Metode ini bertujuan untuk: memfasilitasi pelayanan keperawatan; menerapkan proses keperawatan standard; dan menyatukan kemampuan anggota tim yang beragam. Konsep dari metode ini adalah ketua tim sebagai perawata professional harus mampu menggunakan berbagai teknik kepemimpinan. Komunikasi juga merupakan hal yang sangat penting dalam metode ini, anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketuan. Selai itu peran kepala ruang sangat penting dalam model tim in


 







L

Gambar 2 : Sistem pemberian asuhan keperawatan “ Team Nursing “ (Marquis
dan Huston, 1998)
           
3.      Metode Primer
Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab penuh selama 24 jam terhadap asuhan keperawatan pasien mulai dari masuk sampai keluar rumah sakit. Mendorong praktek kemandirian perawat, ada kejelasan antara pembuat perencana asuhan dan pelaksana. Metode primer ini ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien dengan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan, dan koordinasi asuhan keperawatan selama pasien dirawat.
Konsep dasar metode primer :
1)      Ada tanggungjawab dan tanggunggugat
2)      Ada otonomi
3)      Ketertiban pasien dan keluarga
Kelebihannya :
1)      Model praktek profesional
2)      Bersifat kontinuitas dan komprehensif
3)      Perawat primer mendapatkan akontabilitas yang tinggi terhadap hasil dan memungkinkan pengembangan diri → kepuasan perawat
4) Klien/keluarga lebih mengenal siapa yang merawatnya
Kelemahannya :
1) Hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki pengalaman danpengetahuan yang memadai dengan kriteria asertif, self direction,kemampuan mengambil keputusan yang tepat, menguasai keperawatanklinik, akontable serta mampu berkolaborasi dengan berbagai disiplin.
2) Biaya lebih besar
 








Gambar 3 : Diagram sistem asuhan keperawatan “ Primary Nursing “ (Marquis dan Huston, 1998)

4.      Metode Kasus
Setiap pasien ditugaskan kepada semua perawat yang melayani seluruh kebutuhannya pada saat ia dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Metode penugasan kasus biasa diterapkan satu pasien satu perawat, umumnya dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk perawatan khusus seperti : isolasi, intensive care.
Kelebihan :
1) Perawat lebih memahami kasus per kasus
2) Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah
Kekurangan :
1) Belum dapatnya diidentifikasi perawat penanggungjawab
2) Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar yang sama
 










Gambar 4 : Sistem sistem asuhan keperawatan “ Case Method Nursing “
(Marquis dan Huston, 1998)
Agar metode metode diatas dapat di jalankan dengan baik maka masing-masing pihak harus menge tahui peran dan ttanggung jawab masing-masing, berikut  merupakan tanggung jawab masing –masing peran.
1) Tanggung Jawab Karu :
a) Menetapkan standar kinerja yang diharapkan dari staf
b) Membantu staf menetapkan sasaran dari ruangan
c) Memberi kesempatan katim untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinandan managemen
d) Mengorientasikan tenaga baru
e) Menjadi narasumber bagi tim
f) Mendorong kemampuan staf untuk menggunakan riset keperawatan
g) Menciptakan iklim komunikasi terbuka
2) Tanggung Jawab Katim :
a) Melakukan orientasi kepada pasien baru & keluarga
b) Mengkaji setiap klien, menganalisa, menetapkan rencana keperawatan (renpra), menerapkan tindakan keperawatan dan mengevaluasi renpra
c) Mengkoordinasikan renpra dengan tindakan medis melalui komunikasi yang konsisten
d) Membagi tugas anggota tim dan merencanakan kontinuitas asuhan keperawatan melalui konfrens
e) Membimbing dan mengawasi pelaksanan asuhan keperawatan oleh anggota tim
f) Bertanggung jawab terhadap kepala ruangan
3) Tanggung Jawab Anggota Tim :
a) Melaksanakan perawatan sesuai renpra yang dibuat katim
b) Memberikan perawatan total/komprehensif pada sejumlah pasien
c) Bertanggung jawab atas keputusan keperawatan selama katim tidak ada di tempat
d) Berkontribusi terhadap perawatan
·         observasi terus menerus
·         ikut ronde keperawatan
·         berinterkasi dgn pasien & keluarga
·         berkontribusi dgn katim/karu bila ada masalah



















BAB III
KESIMPULAN

A.  Kesimpulan
Fungsi manajemen keperawatan dalam organisasi adalah mengembangkan seseorang. Hal tersebut berjalan bilamana perawat mau  belajar dan menggunakan ilmu yang ditunjukkan oleh pengalaman dan penelitian yang dikembangkan agar fungsi organisasi dalam manajemen keperawatan semakin berkembang.
Perawat manajer perlu bekerja untuk struktur organisasi ideal. Mereka harus membangun, menguji, mengakui kesalahan, berkompromi, dan menerima. Mereka harus merancang organisasi yang sederhana untuk menyelesaikan pekerjaan. Organisasi adalah produktif jika orang memberikan perhatian yang memenuhi kebutuhan klien dan setiap karyawan merasakan kepuasan.
Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada klien tidak dapat bekerja sendiri, tetapi harus bekerja sama dengan tim kesehatan lain untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi klien. Kerja sama antar perawat dengan tim kesehatan tersebut harus ditata sehingga menghasilkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, penataan yang dimaksud adalah pengorganisasian segala sumber yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan pelayanan keperawatan.
B.  Saran
Semoga perawat dapat memahami tentang pengorganisasian pelayanan keperawatan.












DAFTAR PUSTAKA

1.      Gillies, D. A. ( 1989 ). Nursing Management, A System  Approach.WB Saunders Company. Philadelphia.
2.      Prayitno, Subur. ( 1997 ). Dasar - dasar administrasi kesehatan masyarakat. Airlangga University Press. Surabaya.
3.      Prayitno, Subur. ( 2000 ). Administrasi Rumah Sakit di Indonesia. FKUA. Surabaya.
4.      Sullivan, E.J.et al. ( 1990 ). Management and Leadership for Nurse Manager. Jones and Barlett Publisher. Boston.
5.      Swanburg, C Russel. ( 2000 ). Pengantar Kepemimpinan dan Manjemen Untuk Perawat Klinis. EGC. Jakarta.

 


 











0 comments :

Post a Comment