Thursday, September 6, 2018


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Perkembangan metode pembelajaran di bidang kesehatan atau kedokteran dapat dikatakan berjalan sangat lambat. Hingga tahun 1950-an, metode yang ada belum banyak beranjak dari metode yang ada sejak zaman hipocrates yaitu pembeljaran didaktik l dan dijalankan atas arahan para pendidik yang menjadi nara sumber utama. Metode ini disebut sebagai metode tradisional .
Hingga sekarang sebagian besar tenaga pendidik di bidang kesehatan atau kedokteran hanya mengandalkan metode pembelajaran tradisional dan enggan untuk mengalihkan metode itu menjadi metode alternative yang lebih manantang dan berhasil guna. Hanya sebagian kecil tenaga pendidik atau sekolah kedokteran baru yang banyak menggunakan metodealaternatif yang terbukti efektif, salah satunya bedside teaching
Metode pembelajaran yang tepat efektif dan efisien sangat dibutuhkan bagi pendidikan di bidang kedokteran atau kesehatan. Pada dasarnya luaran suatu system pendidikan, bukanlah semata-mata tergantung dari metodenya, tetapi lebih kepada bagaimana suatu metode diterapkan secara benar dan dilaksanakan oleh orang sangat kompeten atau profisien dalam metode tersebut
Bagaimanapun hebatnya metode pembelajaran bila para pengguna atau pelaksana metode pembeljaran tidak memahami secara benar tentang konsep dan cara penggunaanya, maka hasilnya juga tidak akan lebih efektif dari berbagai metode sebelumnya.

B.       Tujuan penulisan
1.         Tujuan umum
Untuk mengetahui lebih jelas mengenai metode pembelajaran klinik
2.         Tujuan khusus
a.    Mengetahui Metode Pembelajaran Real Side Teaching
b.    Mengetahui Metode Pembelajaran Ronde keperawatan
c.    Mengetahui Metode Pembelajaran Pre Post Conference 
d.   Mengetahui Metode Pembelajaran Timbang  Terima atau Ronde

C.      Manfaat Penulisan
Hasil penulisan makalah ini dapat menambah pengetahuan penulis mengenai Pembelajaran Klinik

D.      Metode Penulisan
Metode  yang digunakan dalam penyusunan makalah ini yaitu dengan studi kepustakaan. Studi kepustakaan adalah suatu metode pengumpulan data dengan cara mencari, mengumpulkan, dan mempelajari materi-materi dari buku maupaun dari media informasi lainnya dalam hal ini yang berkaitan dengan pembelajaran klinik.

























BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.      Pengertian
Pembelajaran klinik keperawatan adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan dalam tatanan nyata. Sedangkan  pengalaman belajar klinik adalah suatu bentuk pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik melalui kesempatan melatih diri dalam melaksanankan praktek keperawatan profesional dalam tatanan nyata (Nursalam, 2008).

B.       Metode
1.    Bed Side Teaching
Bed Side Teaching merupakan metode mengajar pada peserta didik, dilakukan disamping tempat tidur klien meliputi kegiatan mempelajari kondisi klien dan asuhan keperawatan yang dibutuhkan oleh klien.
Prinsip
a.       Sikap fisik maupun psikologis dari pembimbing klinik peserta didik  dan klien.
b.      Jumlah peserta didik dibatasi (ideal 5-6 orang)
c.       Diskusi pada awal dan paska demonstrasi didepan klien dilakukan seminimal mungkin.
d.      Lanjutkan dengan redemonstrasi
e.       Kaji pemahaman peserta didik sesegera mungkin terhadap apa yang didapatnya saat itu.
f.       Kegiatan yang didemonstrasikan adalah sesuatu yang belum pernah diperoleh peserta didik sebelumnya, atau apabila peserta didik menghadapi kesulitan menerapkan.
Hambatan Bedside Teaching
Dalam pelaksanaan bedside teaching, ada beberapa hambatan yang mungkin timbul dalam pelaksanaan bedside teaching :
a.       Gangguan (mis. Panggilan telpon)
b.      Waktu rawat inap yang singkat
c.       Ruangan yang kecil sehingga padat dan sesak
d.      Tidak ada papan tulis
e.       Tidak bisa mengacu pada buku
f.       Pelajar lelah.
Adapun beberapa hambatan dari pasien :
a.       Pasien merasa tidak nyaman
b.      Menyakiti pasien, terutama pada pasien yang kondisi fisiknya tidak stabil
c.       Pasien tidak ada ditempat
d.      Pasien salah pengertian dalam diskusi
e.       Pasien tidak terbuka
f.       Pasien tidak koorportf atau marah

2.    Ronde Keperawatan
Ronde keperawatan merupakan suatu metode pembelajaran klinik yang memungkinkan peserta didik menstranfer dan mengaplikasikan pengetahuan teoritis kedalam praktik keperawatan langsung (Nursalam, 2002).
Karakteristik
a.       Klien dilibatkan langsung
b.      Klien merupakan fokus kegiatan peserta didik
c.       Peserta didik dan pembimbing melakukan diskusi
d.      Pembimbing memfasilitasi kreaktifitas pesrta didik adanya ide-ide baru.
e.       Pembimbing klinik membantu mengembangkan kemampuan peserta didik untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatasi masalah.
Kelemahan
a.       Klien dan keluarga merasa kurang nyaman dan privacy  tergangu.
Tujuan
a.       Menumbuhkan cara berpikir kritis
b.      Menumbuhkan pemikiran bahwa tindakan keperawatan berasal dari masalah klien.
c.       Meningkatkan pola pikir sistematis
d.      Meningkatkan validitas data klien
e.       Menilai kemampuan menentukan diagnosa keperawatan.
f.       Menilai kemampuan membuat justifikasi
g.      Menilai kemampuan menilai hasil kerja
h.      Menilai kemampuan memodifikasi rencana keperawatan.
Peran/tugas Peserta Didik
a.       Menjelaskan data demografi
b.      Menjelaskan masalah keperawatan utama
c.       Menjelaskan intervensi yang dilakukan
d.      Menjelaskan hasil yang didapat
e.       Menentukan tindakan selanjutnya
f.       Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang diambil
Peran Pembimbing
a.       Membantu peserta didik untuk belajar.
b.      Mendukung dalam proses pembelajaran
c.       Memberikan justifikasi
d.      Memberikan Reinforcement
e.       Menilai kebenaran dari masalah dan intervensi keperawatan serta rasional tindakan.
f.       Mengarahkan dan mengoreksi.
g.      Mengintegrasikan teori, dan konsep yang telah dipelajari.
Masalah
a.       Berorientasi pada prosedur keperawatan.
b.      Persiapan sebelum praktik kurang memadai
c.       Belum ada keseragaman tentang hasil ronde keperawatan.
d.      Belum ada kesepakatan tentang model ronde keperawatan.
Tipe-tipe Ronde
Berbagai macam tipe ronde keperawatan dikenal dalam studi kepustakaan. Diantaranya adalah menurut Close dan Castledine (2005) ada empat tipe ronde yaitu matrons’ rounds,  nurse management rounds,  patient comfort rounds dan teaching nurse.
a.       Matron nurse menurut Close dan Castledine (2005) seorang perawat berkeliling ke ruangan-ruangan, menanyakan kondisi pasien sesuai jadwal rondenya. Yang dilakukan perawat ronde ini adalah memeriksa standart pelayanan, kebersihan dan kerapihan, dan menilai penampilan dan kemajuan perawat dalam memberikan pelayanan pada pasien. 
b.      Nurse management rounds menurut Close dan Castledine (2005) ronde ini adalah ronde manajerial yang melihat pada rencana pengobatan dan implementasi pada sekelompok pasien. Untuk melihat prioritas tindakan yang telah dilakukan serta melibatkan pasien dan keluarga pada proses interaksi. Pada ronde ini tidak terjadi proses pembelajaran antara perawat dan head nurse.
c.       Patient comport nurse menurut Close dan Castledine (2005) ronde disini berfokus pada kebutuhan utama yang diperlukan pasien di rumah sakit.  Fungsi perawat dalam ronde ini adalah memenuhi semua kebutuhan pasien. Misalnya ketika ronde dilakukan dimalam hari, perawat menyiapkan tempat tidur untuk pasien tidur.
d.      Teaching rounds menurut Close dan Castledine (2005) dilakukan antara teacher nurse dengan perawat atau mahasiswa perawat, dimana terjadi proses pembelajaran. Teknik ronde ini biasa dilakukan oleh perawat atau mahasiswa perawat. Dengan pembelajaran langsung. Perawat atau mahasiswa dapat langsung mengaplikasikan ilmu yang didapat langsung pada pasien.

3.    Pre-Post Confrence
Pre Conference/Briefing
a.       Menentukan kasus yang akan dihadapi, tujuan spesifik yang ingin dicapai oleh peserta didik dan kriteria evaluasi.
b.      Persiapkan peserta didik sebelum bertemu dengan klien, yang meliputi:  menanyakan pengetahuan dan pengalaman peserta didik sebelumnya, menanyakan permasalahan peserta didik yang memerlukan bantuan pembimbing.
c.       Berikan peserta didik penjelasan tentang pedoman pelaksanan.
d.      Persiapkan klien dan jelaskan tujuan pertemuan.
Implementasi/Demonstration and Inclusion of Microskills
a.       Memberikan kesempatan peserta didik untuk melihat bagaimana pembimbing berinteraksi dengan klien.
b.      Memberi kesempatan peserta didik melakukan keterampilan teknik prosedural dalam rangka memberikan asuhan keperawatan dengan supervisi.
c.       Memfasilitasi belajar aktif peserta didik dengan memberikan pertanyaanberkaitan dengan apa yang dilakukan peserta didik dan mengapa itu dilakukan.
d.      Mengobservasi kemampuan klinik peserta didik dan mengobservasi interaksi peserta didik dengan klien.

Post-Conference/Debriefing
a.       Membahas hal-hal yang telah dilakukan pada saat implementasi.
b.      Berikan kesempatan kepada peserta didik untuk memberikan masukan atau menyampaikan pertanyaan.
c.       Berikan umpan balik pada peserta didik baik yang positif maupun yang negatif. Mulailah umpan baik yang positif dengan memberikan penguatan baik pujian dan dorongan untuk lebih baik lagi.
d.      Koreksi kesalahan peserta didik dengan menunjukkan atau menjelaskan bagaimana melakukan keterampilan klinik tersebut dan bagaimana meningkatkannya.
e.       Menemukan kendala yang dihadapi dan mencari cara untuk mengatasinya.
f.       Mengukur tingkat pencapaian tujuan praktik saat itu.
Evaluasi
a.       Menilai kemampuan intelektual, teknikal dan interpersonal peserta didik.
b.      Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menilai cara dan metode yang dilaksanakan pembimbing.
c.       Mencari cara yang lebih efektif yang digunakan untuk meningkatkan metode pembelajar

4.    Timbang Terima/Ronde
Timbang terima memiliki beberapa istilah lain. Beberapa istilah itu diantaranya handover, handoffs, shift report, signout, signover dan cross coverage. Handover adalah komunikasi oral dari informasi tentang pasien yang dilakukan oleh perawat pada pergantian shift jaga. Friesen (2008) menyebutkan tentang definisi dari handover adalah transfer tentang informasi (termasuk tanggungjawab dan tanggunggugat) selama perpindahan perawatan yang berkelanjutan yang mencakup peluang tentang pertanyaan, klarifikasi dan konfirmasi tentang pasien. Handoffs juga meliputi mekanisme transfer informasi yang dilakukan, tanggungjawab utama dan kewenangan perawat dari perawat sebelumnya ke perawat yang akan melanjutnya perawatan.
Nursalam (2008), menyatakan timbang terima adalah suatu cara dalam menyampaikan sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan klien. Handover adalah waktu dimana terjadi perpindahan atau transfer tanggungjawab tentang pasien dari perawat yang satu ke perawat yang lain. Tujuan dari handover adalah menyedi akan waktu, informasi yang akurat tentang rencana perawatan pasien, terapi, kondisi terbaru, dan perubahan yang akan terjadi dan antisipasinya.
Tujuan Timbang Terima
a.       Menyampaikan masalah, kondisi, dan keadaan klien (data fokus).
b.      Menyampaikan hal-hal yang sudah atau belum dilakukan dalam asuhan keperawatan kepada klien.
c.       Menyampaikan hal-hal penting yang perlu segera ditindaklanjuti oleh dinas berikutnya.
d.      Menyusun rencana kerja untuk dinas berikutnya.

Timbang terima (handover) memiliki tujuan untuk mengakurasi, mereliabilisasi komunikasi tentang tugas perpindahan informasi yang relevan yang digunakan untuk kesinambungan dalam keselamatan dan keefektifan dalam bekerja. Timbang terima (handover) memiliki 2 fungsi utama yaitu:
a.       Sebagai forum diskusi untuk bertukar pendapat dan mengekspresikan perasaan perawat.
b.      Sebagai sumber informasi yang akan menjadi dasar dalam penetapan keputusan dan tindakan keperawatan.

Langkah-langkah dalam Timbang Terima
a.       Kedua kelompok shift dalam keadaan sudah siap.
b.      Shift yang akan menyerahkan perlu menyiapkan hal-hal yang akan disampaikan.
c.       Perawat primer menyampaikan kepada perawat penanggung jawab shift selanjutnya meliputi:
1)        Kondisi atau keadaan pasien secara umum
2)        Tindak lanjut untuk dinas yang menerima operan
3)        Rencana kerja untuk dinas yang menerima laporan
4)        Penyampaian timbang terima diatas harus dilakukan secara jelas dan tidak terburu-buru.
5)        Perawat primer dan anggota kedua shift bersama-sama secara langsung melihat keadaan pasien. (Nursalam, 2002)
Metode dalam Timbang Terima
Timbang terima dengan metode tradisional
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kassesan dan Jagoo (2005) di sebutkan bahwa operan jaga (handover) yang masih tradisional adalah:
1)        Dilakukan hanya di meja perawat.
2)        Menggunakan satu arah komunikasi sehingga tidak memungkinkan munculnya pertanyaan atau diskusi.
3)        Jika ada pengecekan ke pasien hanya sekedar memastikan kondisi secara umum.
4)        Tidak ada kontribusi atau feedback dari pasien dan keluarga, sehingga proses informasi dibutuhkan oleh pasien terkait status kesehatannya tidak up todate.
Timbang terima dengan metode bedside handover
Menurut Kassean dan Jagoo (2005) handover yang dilakukan sekarang sudah menggunakan model bedside handover yaitu handover yang dilakukan di samping tempat tidur pasien dengan melibatkan pasien atau keluarga pasien secara langsung untuk mendapatkan feedback.

Secara umum materi yang disampaikan dalam proses operan jaga baik secara tradisional maupun bedside handover tidak jauh berbeda, hanya pada handovermemiliki beberapa kelebihan diantaranya:
1)        Meningkatkan keterlibatan pasien dalam mengambil keputusan terkait kondisi penyakitnya secara up to date.
2)        Meningkatkan hubungan caring dan komunikasi antara pasien dengan perawat.
3)        Mengurangi waktu untuk melakukan klarifikasi ulang pada kondisi pasien secara khusus.
Efek Timbang Terima dalam Shift Jaga
Timbang terima atau operan jaga memiliki efek-efek yang sangat mempengaruhi diri seorang perawat sebagai pemberi layanan kepada pasien. Efek-efek dari shift kerja atau operan adalah sebagai berikut:
a)        Efek Fisiologi
Kualitas tidur termasuk tidur siang tidak seefektif tidur malam, banyak gangguan dan biasanya diperlukan waktu istirahat untuk menebus kurang tidur selama kerja malam. Menurunnya kapasitas fisik kerja akibat timbulnya perasaan mengantuk dan lelah. Menurunnya nafsu makan dan gangguan pencernaan.
b)        Efek Psikososial
Efek ini berpengeruh adanya gangguan kehidupan keluarga, efek fisiologis hilangnya waktu luang, kecil kesempatan untuk berinteraksi dengan teman, dan mengganggu aktivitas kelompok dalam masyarakat. Saksono (1991) mengemukakan pekerjaan malam berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat yang biasanya dilakukan pada siang atau sore hari. Sementara pada saat itu bagi pekerja malam dipergunakan untuk istirahat atau tidur, sehingga tidak dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut, akibat tersisih dari lingkungan masyarakat.
c)        Efek Kinerja
Kinerja menurun selama kerja shift malam yang diakibatkan oleh efek fisiologis dan efek psikososial. Menurunnya kinerja dapat mengakibatkan kemampuan mental menurun yang berpengaruh terhadap perilaku kewaspadaan pekerjaan seperti kualitas kendali dan pemantauan.
d)        Efek Terhadap Kesehatan
Shift kerja menyebabkan gangguan gastrointestinal, masalah ini cenderung terjadi pada usia 40-50 tahun. Shift kerja juga dapat menjadi masalah terhadap keseimbangan kadar gula dalam darah bagi penderita diabetes.
e)        Efek Terhadap Keselamatan Kerja
Survei pengaruh shift kerja terhadap kesehatan dan keselamatan kerja yang dilakukan Smith et. Al (dalam Adiwardana, 1989), melaporkan bahwa frekuensi kecelakaan paling tinggi terjadi pada akhir rotasi shift kerja (malam) dengan rata-rata jumlah kecelakaan 0,69 % per tenaga kerja. Tetapi tidak semua penelitian menyebutkan bahwa kenaikan tingkat kecelakaan industri terjadi pada shift malam. Terdapat suatu kenyataan bahwa kecelakaan cenderung banyak terjadi selama shift pagi dan lebih banyak terjadi pada shift malam.






















BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Pembelajaran klinik keperawatan adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan dalam tatanan nyata. Sedangkan  pengalaman belajar klinik adalah suatu bentuk pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik melalui kesempatan melatih diri dalam melaksanankan praktek keperawatan profesional dalam tatanan nyata. Dalam pembelajaran klikik ada beberapa metode yang dapat digunakan seperti Bed side teaching,  ronde keperawatan, pre post conference, dan timbang terima.
B.       Saran
Semoga mahasiswa keperawatan dapat memahami dan mengaplikasikan pembelajaran klinik diatas agar dapat bekerja baik saat bekerja.






















DAFTAR PUSTAKA

1.      Hamalik, oemar. 2008. Perencanaan pengajaran berdasarkan pendekatan sistem. Bumi aksara : jakarta
2.      Nursalam. 2002. Manajemen keperawatan : aplikasi dalam keperawatan profesional. Edisi pertama. Jakarta : salemba medika.
3.      Nursalam, 2007. Manajemen keperawatan: aplikasi dalam keperawatan profesional. Edisi ke-2. Jakarta : salemba medika.
4.      Nursalam & ferry e. 2008. Pendidikan dalam keperawatan. Jakarta : salemba medika.




0 comments :

Post a Comment