BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kualitas suatu bangsa ditentukan
dari kualitas sumber daya manusianya, dalam hal ini pemuda adalah ujung tombak
dari suatu bangsa. Kesehatan dan pendidikan menjadi komponen penunjang utama
untuk menyokong kualitas sumber daya manusia.Anemia karena defisiensi zat besi
merupakan kelainan gizi yang paling sering ditemukan di dunia dan menjadi
masalah kesehatan masyarakat yang bersifat epidemik. Masalah ini terutama
menjangkiti para wanita dalam usia reproduktif dan anak-anak kawasan tropis dan
subtropis. Anemia karena defisiensi zat besi menyerang lebih dari 2 milyar
penduduk di dunia. Di Negara berkembang, terdapat 370 juta wanita yang
menderita anemia karena defisiensi zat besi. Prevalensi rata-rata wanita yang
tidak hamil 41%, gabungan Asia Selatan dan Tenggara turut menyumbangkan hingga
58% total penduduk yang mengalami anemia di negara berkembang (vijayaraghavan,
2004). Penanggulangan masalah gizi di Indonesia masih terkonsentrasi pada empat
masalah utama kurang gizi seperti kurang energi protein, anemia gizi besi,
kurang vitamin A, dan gangguan akibat kurang iodium walaupun gizi lebih sudah
terjadi di kota-kota besar. Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan prevalensi
gizi buruk yang menurun (5,4%) jika dibandingkan dengan hasil susenas 2005
(8,8%), namun masalah anemia di Indonesia masih berada di atas ambang batas
masalah kesehatan. Survei gizi mikro di 10 propinsi menunjukkan masih tingginya
angka prevalensi anemia pada balita 19 yaitu sebesar 26,3% dan pada wanita usia
subur sebesar 27,9% (batas ambang masalah kesehatan : > 20%) (Depkes RI,
2008). Diantara empat masalah gizi tersebut, anemia adalah salah satu gangguan
gizi yang sering diderita oleh remaja, terutama remaja putri. Alasan mengapa
remaja dijadikan sorotan dalam hal ini karena seperlima penduduk Indonesia
adalah remaja. Dalam warta demografi (2005) disebutkan berdasarkan sensus
penduduk tahun 2000 jumlah remaja pada usia 15 sampai dengan 24 tahun adalah
40.407.618 juta jiwa dengan presentase sebesar 20,08% dari jumlah penduduk
Indonesia.Dilihat dari jenis kelamin, jumlah remaja perempuan lebih banyak
dibandingkan laki-laki. Jumlah remaja sebanyak 20.520.806 juta jiwa dengan
presentase sebesar 50,78% dan remaja laki-laki sebanyak 19.886.812 juta jiwa
dengan presentase 49,22% (Dewi, 2008). Selain itu, pada masa remaja adalah masa
dimana terjadi perubahan fisik, seperti berkembangnya fungsi seksual menuju
kematangan, perubahan bentuk tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dll.Berkaitan
dengan perkembangan fungsi seksual remaja, pada remaja ada masa yang disebut
dengan masa pubertas. Remaja laki-laki biasanya ditandai dengan mimpi basah
atau pecahnya suara dan remaja putri ditandai dengan menstruasi pertama. Oleh
sebab itu, kebutuhan zat besi pada perempuan adalah 3 kali lebih besar daripada
pada laki-laki. Perempuan setiap bulan mengalami menstruasi yang secara
otomatis mengeluarkan darah. Itulah sebabnya perempuan membutuhkan zat besi
untuk mengembalikan kondisi tubuhnya ke keadaan semula. Hal tersebut tidak
terjadi pada laki-laki.Kesehatan menjadi hal yang paling penting dalam
mendukung kehidupan organisme. Masalah kesehatan sering diremehkan orang demi
kesenangan sementara, apalagi pada remaja. Perubahan yang berjalan sangat cepat
pada bentuk tubuh menyebabkan remaja pada kondisi emosional yang kurang stabil,
sehingga remaja cenderung melakukan perbuatan tanpa perhitungan, termasuk
perilaku yang tidak sehat karena keinginan individu agar diterima oleh
teman-temannya (Purwaningrum, 2008).Anemia merupakan masalah kesehatan yang
sering terjadi pada wanita usia subur seperti remaja dan harus ditanggulangi
secara serius, terutama anemia gizi besi. Penyebab anemia gizi besi ialah
karena kurangnya pemasukan zat besi, berkurangnya sediaan zat besi dalam
makanan, meningkatnya kebutuhan akan zat besi, kehilangan darah yang kronis,
penyakit malaria, cacing tambang dan infeksi-infeksi lain serta pengetahuan
yang kurang tentang anemia gizi besi yang berpengaruh terhadap status gizi
orang tersebut.Menurut SKRT Tahun 2007, pervalensi anemia pada wanita usia
subur (WUS) usia 15-19 mencapai 26, 5% (Depkes RI, 2008). Ada sekitar 370 juta
wanita yang menderita anemia karena defisiensi zat besi (vijayaraghavan, 2004).
1.2
Rumusan masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan remaja?
2. Apakah yang dimaksud dengan anemia?
3. Apakah dampak dari anemia?
4. Apakah pencegahan dan penanggulangan
anemia?
1.3
Tujuan penulisan
1. Untuk mengetahui yang dimaksud
dengan remaja
2. Untuk mengetahui yang dimaksud
dengan anemia
3. Untuk mengetahui dampak dari anemia
4. Untuk mengetahui pencegahan dan
penanggulangan anemia
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Pengertian
Remaja Menurut (Stanley Hall 1991 dalam Dewi, 2008) masa
remaja merupakan masa dimana dianggap sebagai masa topan badai dan stress
(Storm and Stress). Karena mereka telah memiliki keinginan bebas untuk
menentukan nasib sendiri, kalau terarah dengan baik maka ia akan menjadi
seorang individu yang memiliki rasa tanggungjawab, tetapi kalau tidak
terbimbing maka bisa menjadi seorang yang tak memiliki masa depan dengan
baik.Menurut (Yulia S. D. Gunarsa dan Singgih D. Gunarsa, 1991 dalam Dewi,
2008).
Istilah asing yang
sering digunakan untuk menunjukkan masa remaja antara lain :
a. Puberty (bahasa Inggris) berasal
dari istilah latin pubertas yang berarti kelakilakian, kedewasaan yang
dilandasi oleh sifat dan tanda kelaki-lakian. Pubescence dari kata pubis (pubic
hair) yang berarti rambut (bulu) pada daerah kemaluan (genetal) maka pubescence
berarti perubahan yang dibarengi dengan tumbuhnya rambut pada daerah kemaluan.
b. Adolescentia berasal dari istilah
latin adolescentia yang berarti masa muda yang terjadi antara 17 – 30 tahun
yang merupakan masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menunju masa
dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis dan
psikososial. Proses perkembangan psikis remaja dimulai antara 12 – 22
tahun.Menurut Santrock (1998) mendefinisikan pubertas sebagai masa pertumbuhan
tulang-tulang dan kematangan seksual yang terjadi pada masa awal remaja.
Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 1998) usia remaja antara 12 sampai usia
23 tahun. Menurut Erikson masa remaja adalah masa yang akan melalui krisis
dimana remaja berusaha untuk mencari identitas diri (Search for self –
Identity) (Dewi, 2008).
2.1.1 Definisi Pubertas
Pubertas adalah masa ketika seorang
anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual. Masa
pubertas dalam kehidupan kita biasanya dimulai saat berumur delapan hingga
sepuluh tahun dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun. Pada masa
ini memang pertumbuhan dan perkembangan berlangsung dengan cepat. Pada wanita
pubertas ditandai dengan menstruasi pertama (menarche), sedangkan pada
laki-laki ditandai dengan mimpi basah. Kini, dikenal adanya pubertas dini pada
remaja. Penyebab pubertas dini ialah bahwa bahan kimia DDT sendiri, DDE,
mempunyai efek yang mirip dengan hormon estrogen. Hormon ini diketahui sangat
berperan dalam mengatur perkembangan seks wanita.
2.1.2 Ciri Pubertas
Pada
saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi
pertama pada remaja putri atau pun perubahan suara pada remaja putra, secara
biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas menjadikan seorang
anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk berreproduksi.Pada masa pubertas,
hormon seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis hormon
(gonadotrophins atau gonadotrophic hormones) yang berhubungan dengan
pertumbuhan, yaitu:
1. Follicle-Stimulating Hormone (FSH);
2. Luteinizing.Hormone (LH). Pada anak
perempuan, kedua hormon tersebut merangsang pertumbuhan estrogen dan
progesterone: dua jenis hormon kewanitaan. Pada anak lelaki, Luteinizing
Hormone yang juga dinamakan Interstitial-Cell Stimulating Hormone (ICSH)
merangsang pertumbuhan testosterone. Pertumbuhan secara cepat dari
hormon-hormon tersebut di atas merubah sistem biologis seorang anak. Anak
perempuan akan mendapat menstruasi, sebagai pertanda bahwa sistem reproduksinya
sudah aktif. Selain itu terjadi juga perubahan fisik seperti payudara mulai berkembang,
dll.
2.2 Pengertian Anemia
Anemia oleh orang awam dikenal sebagai kurang darah. Anemia
adalah suatu penyakit dimana kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari
normal. Anemia berbeda dengan tekanan darah rendah. Tekanan darah rendah adalah
kurangnya kemampuan otot jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh sehingga
menyebabkan kurangnya aliran darah yang sampai ke otak dan bagian tubuh lainnya
(Depkes RI, 1998).Anemia yang terjadi pada seseorang lebih banyak disebabkan
karena karena efek samping dari keadaan penyakit tertentu atau suatu keadaan
patologis. Seperti karena penyakit malaria, cacing tambang dan infeksi-infeksi
yang lain yang banyak terjadi khususnya di negara tropis. Biasanya semakin
rendah kadar Hb maka dapat dikatakan bahwa anemia yang terjadi semakin berat
dan perlu penanganan segera. Anemia defisensi zat besi lebih banyak terjadi di
negara berkembang daripada negara maju atau industri. Prevalensi yang tertinggi
terjadi di negara Afrika dan Asia Selatan.
2.2.1
Etiologi
Anemia Deplesi zat besi dapat
dipilah menjadi tiga tahap dengan derajat keparahan yang berbeda dan berkisar
dari ringan hingga berat.Sumber : (vijayaraghavan, 2004) 1. Tahap pertama,
meliputi berkurangnya simpanan zat besi yang ditandai berdasarkan penurunan
kadar feritin serum. Meskipun tidak disertai konsekuensi fisiologis yang buruk,
namun keadaan ini menggambarkan adanya peningkatan kerentanan dari keseimbangan
besi yang marjinal untuk jangka waktu lama. Sehingga dapat terjadi defisiensi
besi yang berat. 2. Tahap kedua, ditandai oleh perubahan biokimia yang
mencerminkan kurangnya zat besi bagi produksi hemoglobin yang normal. Pada
keadaan ini terjadi penurunan kejenuhan transferin atau peningkatan
protoporfirin eritrosit, dan peningkatan jumlah reseptor transferin serum. 3.
Tahap ketiga, defisiensi zat besi berupa anemia. Pada anemia karena defisiensi
yang berat, kadar hemoglobinnya kurang dari 7 g/dl (vijayaraghavan, 2004).
2.2.2
Metabolisme Zat Besi
Tubuh manusia membutuhkan zat besi
untuk sintesis protein yang membawa oksigen, yaitu hemoglobin serta mioglobin
dalam tubuh, dan untuk sintesis enzim yang mengandung zat besi dan turut serta
dalam reaksi perpindahan elektron serta reaksi oksidasi-reduksi. Proses aktif
di dalam duodenum menyerap zat besi. Kemudian zat besi yang diserap dibawa
melalui membran mukosa serta serosa ke dalam darah dan dari sini, protein
membawa (transferin) yang ada di dalam plasma mengangkutnya ke dalam sel atau
ke sumsum tulang bagi keperluan eritropoisis. Transferin membawa zat besi ke
dalam jaringan melalui reseptor membran sel spesifik pada transferin. Reseptor
sel tersebut mengikat kompleks transferin dan zat besi pada permukaan sel serta
membawanya ke dalam sel untuk melepaskan zat besi.
Di dalam tubuh manusia, zat besi
didistribusikan dalam enam lokasi, yaitu:
1. Hemoglobin (2-2.5 g besi)
2. Simpanan besi sebagai feritin dan
hemosiderin (1 g pada laki-laki; 600 mg pada wanita)
3. Mioglobin pada oto t skeletal dan
jantung (130 mg besi)
4. Sumber gabungan zat besi yang labil
(80-90 mg besi)
5. Zat besi dalam jaringan yang terdiri atas heme
dan flavo-protein (5-8 mg besi)
6. Transportasi pada pembentukan zat
besi (3 mg besi). Total besi tubuh pada manusia adalah 2.3 g. Pada laki-laki,
sekitar sepertiga dari total zat besi adalah tubuh berupa simpanan zat besi.
Sementara pada wanita, simpanan zat besi tersebut hanya membentuk seperdelapan
dari total zat besi dalam tubuh. Lebihkurang dua per tiga dari total zat besi
merupakan bentuk fungsional, yang melaksanakan fungsi metabolik atau fungsi
enzim. Hampir semua zat besi ini berbentuk hemoglobin yang beredar di dalam sel
darah merah. Mioglobin dan enzim yang mengandung zat besi lainnya hanya sekitar
15% dari zat besi fungsional.Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan zat
besi adalah asupan zat besi. Laki-laki dewasa memerlukan sekitar 1 mg besi yang
diserap setiap harinya untuk menggantikan zat besi yang hilang melalui sekresi
usus, sel epitel, urine, dan kulit. Pada wanita sedang menstruasi, kebutuhan
ini dapat meningkat hingga 1.4 mg.Seperti halnya kebanyakan logam lain,
homeostasis zat besi dipertahankan dengan mengendalikan absorpsi yang akan
meningkat pada keadaan defiensi dan menurun ketika eritroposis tertekan. Tubuh
dapat mengekstresikan zat besi dengan kemampuan yang terbatas dan kelebihannya
akan disimpan sebagai feritin atau hemosiderin di dalam hati, limpa, serta
sumsum tulang.
Asupan zat besi yang tidak memadai akan :
1. Meningkatkan absorpsi besi dari
makanan
2. Memobilisasi simpanan zat besi dalam
tubuh
3. Mengurangi transportasi besi ke
sumsum tulang
4. Menurunkan kadar hemoglobin
sehingga akhirnya terjadi anemia
karena defisiensi zat besi Hemoglobin memainkan peranan yang penting dalam
transportasi oksigen. Pada anemia karena defisiensi zat besi yang moderat akan
terjadi mekanisme kompensasi melalui perubahan biokimia untuk mengimbangi
pernurunan kapasitas darah dalam membawa oskigen. Sebaliknya, pada anemia
karena defisiensi zat besi yang berat, penurunan kadar hemoglobin yang nyata
akan mengurangi kapasitas membwa oksigen sehingga terjadi hipoksia jaringan
yang kronis (vijayaraghavan, 2004).
2.2.3
Absorpsi Zat Besi
Mekanisme pengaturan keseimbangan
zat besi yang utama adalah absorpsi zat besi melalui traktus gastrointestinal.
Karena manusia tidak memiliki alur fisiologis untuk ekskresi zat besi, regulasi
absorpsi zat besi di dalam usus sangatlah penting. Sel-sel kriptus duodenum
akan mengalami maturasi untuk menjadi enterosit dengan fungsi absorpsi zat besi
akan akan mencerminkan status zat besi yang ada pada saat maturasi tersebut.
Nilai pH getah lambung yang rendah membantu melarutkan zat besi yang tercerna
dan memudahkan reduksi enzimatik zat besi dari bentuk ferri menjadi ferro yang
dilakukan oleh enzim brushborder ferrireduktase. Namun demikian, bagaimana
pengaturan mekanisme absorpsi zat besi masih belum jelas benar.Simpanan zat
besi dalam tubuh dan status hemoglobin individual menentukan presentase
absorpsi rendah, wanita dan anak-anak menyerap zat besi dari makanandengan
proporsi lebih tinggi. Pada kehamilan, dengan berkurangnya simpanan zat besi terjadi
bersamaan gestasi, penyerapan besi secara berangsur dan mantap menjadi lebih
efisien. Sebaliknya simpanan zat besi yang besar dalam tubuh pria akan
mengurangi presentase zat besi yag diserap dan keadaan ini melindungi tubuh
terhadap kelebihan muatan zat besi. Sekitar dua per tiga total zat besi tubuh
terdapat di dalam sel darah merah. Penghancuran atau produksi sel darah merah
bertanggung jawab terhadap proses pergantian zat besi. Kebanyakan zat besi pada
sel darah merah yang dihancurkan digunakan kembali untuk sintesis
hemoglobin.Zat besi banyak terkandung dalam daging merah, telur, sayuran, dan
sereal, tetapi kosentrasinya di dalam susu, buah, dan produk nabati lainnya
sangat rendah. Kandungan zat besi sendiri dalam setiap makanan tidak banyak,
berarti karena absorpsi zat besi bervariasi secara luas. Ada dua tipe zat besi
dalam makanan, zat besi non heme yang terdapat pada makanan nabati serta
jaringan tubuh hewan, dan zat besi heme yang berasal dari hemoglobin serta
mioglobin pada produk hewani. Zat besi heme mewakili 30-70% dari jumlah total
zat besi dalam daging yang rendah lemak dan selalu dapat diserap dengan baik.
Zat besi non heme dari daging merah dan makanan nabati memasuki sumber gabungan
zat besi non heme yang umum di dalam getah lambung. Di sumber gabungan zat besi
non heme, jumlah zat besi yang diabsorpsi sebagian besar bergantung pada
keberadaan zat di dalam makanan yang meningkatkan serta menghambat absorpsi dan
pada status zat besi orang tersebut.Besi heme diperoleh terutama dari daging merah,
unggas, dan ikan, serta jenis ini diserap sedikitnya dua hingga tiga kali lebih
baik dari pada zat besi non heme. Sebagian besar zat besi non heme berasal dari
produk nabati dan susu. Lebih dari 85% zat besi dalam makanan merupakan jenis
besi non heme. Ada beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan atau
menghambat absorpsi besi. Absorpsi besi non heme sangat dipengaruhi oleh adanya
inhibitor absorpsi besi dan fasilitator (enhancer) kelarutan zat besi pada usus
halus bagian prosimal. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi besi sebagai
berikut :
2.2.4
Fasilitator Absorpsi Zat Besi
Fasilitator absorpsi zat besi yang
paling terkenal adalah asam askorbat (vitamin C) yang dapat meningkatkan
absorpsi zat besi non heme secara signifikan. Jadi, buah kiwi, jambu biji, dan
jeruk merupakan produk pangan nabati yang meningkatkan absorpsi besi.
Faktor-faktor yang ada di dalam daging juga memudahkan absorpsi besi non heme
(vijayaraghavan, 2004).
2.2.5
Penghambat Abosorpsi Zat Besi
Penghambat zat besi meliputi kalsium fosfat, bekatul, asam
fitat, dan polifenol. Asam fitat banyak terdapat dalam sereal dan
kacang-kacangan merupakan faktor utama yang bertanggung jawab atas buruknya
ketersediaan hayati zat besi dalam jenis makanan ini. Karena serat pangan
sendiri tidak menghambat absorpsi besi, efek penghambat pada bekatul
semata-mata disebabkan oleh keberadaan asam fitat.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Absorpsi Zat Besi:
1. Tipe makanan yang dikonsumsi
2. Interaksi antar bahan pangan
3. Mekanisme regulasi dalam mukosa usus
4. Bioavailabilitas (penggunaan besi
yang dikonsumsi untuk fungsi metabolik)
5. Jumlah simpanan zat besi
6. Kecepatan produksi sel darah merah
dan perkecambahan biji-bijian yang menjadi produk pangan akan memperbaiki
absorpsi dengan mengaktifkan enzim fitase untuk menguraikan asam
fitat.Polifenol (asam fenolat, flavonoid, dan produk polimerisasi) terdapat
dalam teh, kopi, dan anggur merah. Tanin yang terdapat dalam teh hitam
merupakan jenis penghambat paling paten dari semua inhibitor di atas. Kalsium
yang dikonsumsi dalam produk susu seperti susu atau keju juga dapat menghambat
absorpsi besi. Namun demikian, komponen lainnya, terutama fasilitator absorpsi
besi dan khususnya santapan yang kompleks, dapat mengimbangi efek penghambat
pada polifenol dan kalsium (vijayaraghavan, 2004).
2.2.6
Dampak Anemia
Memiliki dampak yang cukup serius apabila tidak
ditanggulangi secara serius. Adapun klasifikasi dari dampak anemia sesuai
dengan umurnya (Depkes RI, 2003) :
Anak-anak :
a. Menurunkan kemampuan dan konsentrasi
belajar.
b. Menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan
otak.
c. Meningkatkan risiko menderita
penyakit infeksi karena daya tahan
tubuh menurun.
Wanita :
a. Anemia akan menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah
sakit.
b. Menurunkan produktivitas kerja.
c.
Menurunkan kebugaran.
Remaja
a. Menurunkan kemampuan dan konsentrasi
belajar.
b. Mengganggu
pertumbuhan sehingga tinggi badan tidak mencapai optimal.
c. Menurunkan kemampuan fisik olahragawati dan olahragawan.
d. Mengakibatkan muka pucat.
2.2.7
Pencegahan dan Penanggulangan
Anemia Defisiensi Zat Besi Ada beberapa pendekatan yang
digunakan oleh pemerintah untuk mencegah atau mengurangi terhadap kejadian
kekurangan zat besi, usaha-usaha yang dilakukan tersebut antara lain:
1. Meningkatkan konsumsi makanan
bergizi dengan diet tinggi zat besi dan vitamin C.
2. Menambah pemasukkan zat besi ke dalam tubuh dengan minum
Tablet Tambah Darah (TTD).
3. Mengobati penyakit yang
menyebabkan atau memperberat anemia seperti: kecacingan, malaria, dan TBC
(Depkes RI, 1998) Mengingat unsur mineral ini terdapat dalam makanan dengan
jumlah yang relative kecil, cara efektif untuk mengatasi anemia defisiensi besi
segera setelah diketahui adalah dengan pemberian zat besi dalam bentuk
preparat. Apabila terdapat kesalahan pada kebiasaan makan ikut memainkan
peranan penting dalam menimbulkan keadaan anemia, kebiasaan ini harus dikoreksi
untuk mencegah timbulnya kembali anemia pada pasien harus melihat cara-cara
memilih makanan yang bervariasi dan baik (E. Beck, 2000).
2.3
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Anemia Remaja Menurut Junadi (1995),
terdapat tiga faktor
yang mempengaruhi timbulnya anemia, yaitu :
1. Sebab langsung, yaitu karena
ketidakcukupan zat besi dan infeksi penyakit. Kurangnya zat besi dalam tubuh
disebabkan karena kurangnya asupan makanan yang mengandung zat besi, makanan
cukup, namun bioavailabilitas rendah, serta makanan yang dimakan mengandung zat
penghambat absorpsi besi. Infeksi penyakit yang umumnya memperbesar resiko
anemia adalah cacing dan malaria.
2. Sebab tidak langsung, yaitu
rendahnya perhatian keluarga terhadap wanita, aktifitas wanita tinggi, pola
distribusi makanan dalam keluarga dimana ibu dan anak wanita tidak menjadi
prioritas.
3. Sebab mendasar yaitu masalah ekonomi,
antara lain rendahnya pendidikan, rendahnya pendapatan, status sosial yang
rendah dan lokasi geografis yang sulit.Menurut Depkes (2003),
penyebab
anemia pada remaja putri dan wanita adalah :
a. Pada umumnya konsumsi makanan
nabati pada remaja putri dan wanita tinggi, dibanding makanan hewani sehingga
kebutuhan Fe tidak terpenuhi.
b. Sering melakukan diet
(pengurangan makan) karena ingin langsing dan mempertahankan berat badannya.
c. Remaja putri mengalami menstruasi tiap bulan yag
membutuhkan zat besi tiga kali lebih banyak dibanding laki-laki.
2.3.1 Sosial Ekonomi
1. Pengetahuan Gizi Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu,
dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek
tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Pengalaman penelitian
menyatakan ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan lebih baik daripada
perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2003).
Menurut Lunandi (1984), pengetahuan yang didapat oleh
seseorang menyebabkan seseorang tersebut memiliki keterampilan. Keterampilan
serta material yang tersedia akan mengarahkan seseorang pada perubahan
perilaku.Pengetahuan gizi adalah kemampuan seseorang untuk mengingat kembali
kandungan gizi makanan, sumber serta kegunaan zat gizi tersebut didalam tubuh.
Pengetahuan gizi ini mencakup proses kognitif yang dibutuhkan untuk
menggabungkan informasi gizi dengan perilaku makan agar struktur pengetahuan
yang baik tentang gizi dan kesehatan dapat dikembangkan. Tingkat pengetahuan
gizi seseorang dalam pemilihan makanan dan selanjutnya akan berpengaruh pada
keadaan gizi individu yang bersangkutan (Irawati, 1992).Kelompok remaja masih
berada pada proses belajar sehingga lebih mudah menyerap pengetahuan sebagai
bekal di masa datang (Saraswati, 1997). Penelitian Dadin (2006) menguatkan
teori diatas, bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan
kejadian pada remaja putri, yang mana remaja putri dengan pengetahuan gizi
rendah memiliki resiko 2,86 kali menderita anemia dibandingkan dengan remaja
putri yang pengetahuan gizinya baik.
2. Pendidikan Orangtua Pendidikan kesehatan berupaya agar
masyarakat menyadari atau mengetahui bagaimana cara memelihara kesehatan
mereka, bagaimana menghindari atau mencegah hal-hal yang merugikan kesehatan
mereka dan kesehatan orang lain, kemana seharusnyamencari pengobatan bila sakit
dan sebagainya (Notoatmodjo, 2003). Faktor pendidikan dapat mempengaruhi status
anemia seseorang sehubungan dengan pemilihan makanan yang dikonsumsi. Tingkat
pendidikan yang lebih tinggi akan mempengaruhi pengetahuan dan informasi
tentang gizi yang lebih baik dibandingkan seseorang yang berpendidikan lebih
rendah (Permaesih, 2005) Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap perilaku hidup
sehat. Pendidikan yang lebih tinggi memudahkan seseorang dalam menyerap
informasi dan mengimplementasikan dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari,
khusunya dalam hal kesehatan dan gizi. Tingkat pendidikan, khususnya tingkat
pendidikan wanita mempengaruhi derajat kesehatan (Atmarita, 2004).Tingkat
pendidikan ibu terutama dapat menentukan pengetahuan, sikap, dan
keterampilannya dalam menentukan makanan keluarga. Peranan ibu biasanya peling
banyak berpengaruh terhadap pembentukan kebiasaan makan anak, karena ibulah
yang mempersiapkan makanan mulai mengatur menu, berbelanja, memasak, menyiapkan
makanan, dan mendistribusikan makanan. Pendidikan dan pengetahuan ibu sangat
berpengaruh terhadap kualitas hidangan yang disajikan, pengetahuan gizi
berkembang secara bermakna dengan sikap positif terhadap perencanaan dan
persiapan makanan. Semakin tinggi pengetahuan gizi ibu, maka makin positif
sikap ibu terhadap kualitas gizi makanan, sehingga makin baik asupan gizi keluarga
(Suhardjo, 1989).Achmad Djaeni (1996) yang menyatakan bahwa pendidikan ibu
merupakan modal utama dalam menunjang ekonomi keluarga, juga berperan dalam
menyusun makanan keluarga, serta pengasuhan dan perawatan anak. Bagi keluarga
dengan tingkatpendidikan rendah dikhawatirkan akan lebih sulit menerima
informasi kesehatankhususnya bidang gizi, sehingga tidak dapat menambah
pengetahuan dan tidak mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semakin
tinggi tingkat pendidikan formal diharapkan semakin tinggi pula tingkat
pendidikan kesehatannya, karena tingkat pendidikan kesehatan merupakanbentuk
intervensi terutama terhadap faktor perilaku kesehatan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Menurut (Stanley Hall 1991 dalam
Dewi, 2008) masa remaja merupakan masa dimana dianggap sebagai masa topan badai
dan stress (Storm and Stress). Karena mereka telah memiliki keinginan bebas
untuk menentukan nasib sendiri, kalau terarah dengan baik maka ia akan menjadi
seorang individu yang memiliki rasa tanggungjawab, tetapi kalau tidak
terbimbing maka bisa menjadi seorang yang tak memiliki masa depan dengan
baik.Menurut (Yulia S. D. Gunarsa dan Singgih D. Gunarsa, 1991 dalam Dewi,
2008). Pubertas adalah masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik,
psikis, dan pematangan fungsi seksual. Masa pubertas dalam kehidupan kita
biasanya dimulai saat berumur delapan hingga sepuluh tahun dan berakhir lebih
kurang di usia 15 hingga 16 tahun. Anemia oleh orang awam dikenal sebagai
kurang darah. Anemia adalah suatu penyakit dimana kadar Hemoglobin (Hb) dalam
darah kurang dari normal. Anemia berbeda dengan tekanan darah rendah. Tekanan
darah rendah adalah kurangnya kemampuan otot jantung untuk memompa darah ke seluruh
tubuh sehingga menyebabkan kurangnya aliran darah yang sampai ke otak dan
bagian tubuh lainnya (Depkes RI, 1998).Anemia yang terjadi pada seseorang lebih
banyak disebabkan karena karena efek samping dari keadaan penyakit tertentu
atau suatu keadaan patologis.
3.2 Saran
Demikianlah makalah yang telah kami susun
mengenai anemia, yang meliputi berbagai macam klasifikasinya.demi kesempurnaan
makalah ini kami harapkan kritikan serta saran yang membangun. Saran dari
penulis kami harapkan agar pembaca dapat memaknai makalah ini. Semoga dapat
bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
1. Almatsier, sunita. 2003. Prinsip
Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
2. Amaliah, Lili. 2002. Faktor-faktor
yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri Mahasiswa Akademi
Keperawatan Pemerintah Kabupaten Serang tahun 2002. skripsi. Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia. 5.
3. Ariawan, iwan. 1998. Besar dan Metode pada
Sampel Penelitian Kesehatan. Depok: Jurusan Biostatistik dan Kependudukan.
Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia.
4. Departemen Kesehatan RI. 1998. Pedoman
Penanggulangan Anemia Gizi Untuk Remaja dan Wanita Usia Subur. Depkes RI:
Jakarta.
5. Departemen Kesehatan RI. 2003. Program
Penanggulangan Anemia Gizi untuk Remaja Putri dan WUS. Depkes RI: Jakarta.
6. Departemen Kesehatan RI. 2008. Gizi dalam
angka. Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI:
Jakarta.
7:01 AM
Student of Nurse
0 comments :
Post a Comment