Thursday, September 6, 2018


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Kualitas suatu bangsa ditentukan dari kualitas sumber daya manusianya, dalam hal ini pemuda adalah ujung tombak dari suatu bangsa. Kesehatan dan pendidikan menjadi komponen penunjang utama untuk menyokong kualitas sumber daya manusia.Anemia karena defisiensi zat besi merupakan kelainan gizi yang paling sering ditemukan di dunia dan menjadi masalah kesehatan masyarakat yang bersifat epidemik. Masalah ini terutama menjangkiti para wanita dalam usia reproduktif dan anak-anak kawasan tropis dan subtropis. Anemia karena defisiensi zat besi menyerang lebih dari 2 milyar penduduk di dunia. Di Negara berkembang, terdapat 370 juta wanita yang menderita anemia karena defisiensi zat besi. Prevalensi rata-rata wanita yang tidak hamil 41%, gabungan Asia Selatan dan Tenggara turut menyumbangkan hingga 58% total penduduk yang mengalami anemia di negara berkembang (vijayaraghavan, 2004). Penanggulangan masalah gizi di Indonesia masih terkonsentrasi pada empat masalah utama kurang gizi seperti kurang energi protein, anemia gizi besi, kurang vitamin A, dan gangguan akibat kurang iodium walaupun gizi lebih sudah terjadi di kota-kota besar. Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan prevalensi gizi buruk yang menurun (5,4%) jika dibandingkan dengan hasil susenas 2005 (8,8%), namun masalah anemia di Indonesia masih berada di atas ambang batas masalah kesehatan. Survei gizi mikro di 10 propinsi menunjukkan masih tingginya angka prevalensi anemia pada balita 19 yaitu sebesar 26,3% dan pada wanita usia subur sebesar 27,9% (batas ambang masalah kesehatan : > 20%) (Depkes RI, 2008). Diantara empat masalah gizi tersebut, anemia adalah salah satu gangguan gizi yang sering diderita oleh remaja, terutama remaja putri. Alasan mengapa remaja dijadikan sorotan dalam hal ini karena seperlima penduduk Indonesia adalah remaja. Dalam warta demografi (2005) disebutkan berdasarkan sensus penduduk tahun 2000 jumlah remaja pada usia 15 sampai dengan 24 tahun adalah 40.407.618 juta jiwa dengan presentase sebesar 20,08% dari jumlah penduduk Indonesia.Dilihat dari jenis kelamin, jumlah remaja perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Jumlah remaja sebanyak 20.520.806 juta jiwa dengan presentase sebesar 50,78% dan remaja laki-laki sebanyak 19.886.812 juta jiwa dengan presentase 49,22% (Dewi, 2008). Selain itu, pada masa remaja adalah masa dimana terjadi perubahan fisik, seperti berkembangnya fungsi seksual menuju kematangan, perubahan bentuk tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dll.Berkaitan dengan perkembangan fungsi seksual remaja, pada remaja ada masa yang disebut dengan masa pubertas. Remaja laki-laki biasanya ditandai dengan mimpi basah atau pecahnya suara dan remaja putri ditandai dengan menstruasi pertama. Oleh sebab itu, kebutuhan zat besi pada perempuan adalah 3 kali lebih besar daripada pada laki-laki. Perempuan setiap bulan mengalami menstruasi yang secara otomatis mengeluarkan darah. Itulah sebabnya perempuan membutuhkan zat besi untuk mengembalikan kondisi tubuhnya ke keadaan semula. Hal tersebut tidak terjadi pada laki-laki.Kesehatan menjadi hal yang paling penting dalam mendukung kehidupan organisme. Masalah kesehatan sering diremehkan orang demi kesenangan sementara, apalagi pada remaja. Perubahan yang berjalan sangat cepat pada bentuk tubuh menyebabkan remaja pada kondisi emosional yang kurang stabil, sehingga remaja cenderung melakukan perbuatan tanpa perhitungan, termasuk perilaku yang tidak sehat karena keinginan individu agar diterima oleh teman-temannya (Purwaningrum, 2008).Anemia merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada wanita usia subur seperti remaja dan harus ditanggulangi secara serius, terutama anemia gizi besi. Penyebab anemia gizi besi ialah karena kurangnya pemasukan zat besi, berkurangnya sediaan zat besi dalam makanan, meningkatnya kebutuhan akan zat besi, kehilangan darah yang kronis, penyakit malaria, cacing tambang dan infeksi-infeksi lain serta pengetahuan yang kurang tentang anemia gizi besi yang berpengaruh terhadap status gizi orang tersebut.Menurut SKRT Tahun 2007, pervalensi anemia pada wanita usia subur (WUS) usia 15-19 mencapai 26, 5% (Depkes RI, 2008). Ada sekitar 370 juta wanita yang menderita anemia karena defisiensi zat besi (vijayaraghavan, 2004).

1.2  Rumusan masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan remaja?
2.      Apakah yang dimaksud dengan anemia?
3.      Apakah dampak dari anemia?
4.      Apakah pencegahan dan penanggulangan anemia?

1.3  Tujuan penulisan
1.      Untuk mengetahui yang dimaksud dengan remaja
2.      Untuk mengetahui yang dimaksud dengan anemia
3.      Untuk mengetahui dampak dari anemia
4.      Untuk mengetahui pencegahan dan penanggulangan anemia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian
Remaja Menurut (Stanley Hall 1991 dalam Dewi, 2008) masa remaja merupakan masa dimana dianggap sebagai masa topan badai dan stress (Storm and Stress). Karena mereka telah memiliki keinginan bebas untuk menentukan nasib sendiri, kalau terarah dengan baik maka ia akan menjadi seorang individu yang memiliki rasa tanggungjawab, tetapi kalau tidak terbimbing maka bisa menjadi seorang yang tak memiliki masa depan dengan baik.Menurut (Yulia S. D. Gunarsa dan Singgih D. Gunarsa, 1991 dalam Dewi, 2008).
 Istilah asing yang sering digunakan untuk menunjukkan masa remaja antara lain :
a.       Puberty (bahasa Inggris) berasal dari istilah latin pubertas yang berarti kelakilakian, kedewasaan yang dilandasi oleh sifat dan tanda kelaki-lakian. Pubescence dari kata pubis (pubic hair) yang berarti rambut (bulu) pada daerah kemaluan (genetal) maka pubescence berarti perubahan yang dibarengi dengan tumbuhnya rambut pada daerah kemaluan.
b.      Adolescentia berasal dari istilah latin adolescentia yang berarti masa muda yang terjadi antara 17 – 30 tahun yang merupakan masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menunju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis dan psikososial. Proses perkembangan psikis remaja dimulai antara 12 – 22 tahun.Menurut Santrock (1998) mendefinisikan pubertas sebagai masa pertumbuhan tulang-tulang dan kematangan seksual yang terjadi pada masa awal remaja. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 1998) usia remaja antara 12 sampai usia 23 tahun. Menurut Erikson masa remaja adalah masa yang akan melalui krisis dimana remaja berusaha untuk mencari identitas diri (Search for self – Identity) (Dewi, 2008).




2.1.1 Definisi Pubertas
Pubertas adalah masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual. Masa pubertas dalam kehidupan kita biasanya dimulai saat berumur delapan hingga sepuluh tahun dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun. Pada masa ini memang pertumbuhan dan perkembangan berlangsung dengan cepat. Pada wanita pubertas ditandai dengan menstruasi pertama (menarche), sedangkan pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah. Kini, dikenal adanya pubertas dini pada remaja. Penyebab pubertas dini ialah bahwa bahan kimia DDT sendiri, DDE, mempunyai efek yang mirip dengan hormon estrogen. Hormon ini diketahui sangat berperan dalam mengatur perkembangan seks wanita.
2.1.2 Ciri Pubertas
Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi pertama pada remaja putri atau pun perubahan suara pada remaja putra, secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk berreproduksi.Pada masa pubertas, hormon seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis hormon (gonadotrophins atau gonadotrophic hormones) yang berhubungan dengan pertumbuhan, yaitu:
1.      Follicle-Stimulating Hormone (FSH);
2.      Luteinizing.Hormone (LH). Pada anak perempuan, kedua hormon tersebut merangsang pertumbuhan estrogen dan progesterone: dua jenis hormon kewanitaan. Pada anak lelaki, Luteinizing Hormone yang juga dinamakan Interstitial-Cell Stimulating Hormone (ICSH) merangsang pertumbuhan testosterone. Pertumbuhan secara cepat dari hormon-hormon tersebut di atas merubah sistem biologis seorang anak. Anak perempuan akan mendapat menstruasi, sebagai pertanda bahwa sistem reproduksinya sudah aktif. Selain itu terjadi juga perubahan fisik seperti payudara mulai berkembang, dll.




2.2 Pengertian Anemia
Anemia oleh orang awam dikenal sebagai kurang darah. Anemia adalah suatu penyakit dimana kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal. Anemia berbeda dengan tekanan darah rendah. Tekanan darah rendah adalah kurangnya kemampuan otot jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh sehingga menyebabkan kurangnya aliran darah yang sampai ke otak dan bagian tubuh lainnya (Depkes RI, 1998).Anemia yang terjadi pada seseorang lebih banyak disebabkan karena karena efek samping dari keadaan penyakit tertentu atau suatu keadaan patologis. Seperti karena penyakit malaria, cacing tambang dan infeksi-infeksi yang lain yang banyak terjadi khususnya di negara tropis. Biasanya semakin rendah kadar Hb maka dapat dikatakan bahwa anemia yang terjadi semakin berat dan perlu penanganan segera. Anemia defisensi zat besi lebih banyak terjadi di negara berkembang daripada negara maju atau industri. Prevalensi yang tertinggi terjadi di negara Afrika dan Asia Selatan.
2.2.1        Etiologi
Anemia Deplesi zat besi dapat dipilah menjadi tiga tahap dengan derajat keparahan yang berbeda dan berkisar dari ringan hingga berat.Sumber : (vijayaraghavan, 2004) 1. Tahap pertama, meliputi berkurangnya simpanan zat besi yang ditandai berdasarkan penurunan kadar feritin serum. Meskipun tidak disertai konsekuensi fisiologis yang buruk, namun keadaan ini menggambarkan adanya peningkatan kerentanan dari keseimbangan besi yang marjinal untuk jangka waktu lama. Sehingga dapat terjadi defisiensi besi yang berat. 2. Tahap kedua, ditandai oleh perubahan biokimia yang mencerminkan kurangnya zat besi bagi produksi hemoglobin yang normal. Pada keadaan ini terjadi penurunan kejenuhan transferin atau peningkatan protoporfirin eritrosit, dan peningkatan jumlah reseptor transferin serum. 3. Tahap ketiga, defisiensi zat besi berupa anemia. Pada anemia karena defisiensi yang berat, kadar hemoglobinnya kurang dari 7 g/dl (vijayaraghavan, 2004).
2.2.2        Metabolisme Zat Besi
Tubuh manusia membutuhkan zat besi untuk sintesis protein yang membawa oksigen, yaitu hemoglobin serta mioglobin dalam tubuh, dan untuk sintesis enzim yang mengandung zat besi dan turut serta dalam reaksi perpindahan elektron serta reaksi oksidasi-reduksi. Proses aktif di dalam duodenum menyerap zat besi. Kemudian zat besi yang diserap dibawa melalui membran mukosa serta serosa ke dalam darah dan dari sini, protein membawa (transferin) yang ada di dalam plasma mengangkutnya ke dalam sel atau ke sumsum tulang bagi keperluan eritropoisis. Transferin membawa zat besi ke dalam jaringan melalui reseptor membran sel spesifik pada transferin. Reseptor sel tersebut mengikat kompleks transferin dan zat besi pada permukaan sel serta membawanya ke dalam sel untuk melepaskan zat besi.
Di dalam tubuh manusia, zat besi didistribusikan dalam enam lokasi, yaitu:
1.      Hemoglobin (2-2.5 g besi)
2.      Simpanan besi sebagai feritin dan hemosiderin (1 g pada laki-laki; 600 mg pada wanita)
3.      Mioglobin pada oto t skeletal dan jantung (130 mg besi)
4.      Sumber gabungan zat besi yang labil (80-90 mg besi)
5.       Zat besi dalam jaringan yang terdiri atas heme dan flavo-protein (5-8 mg besi)
6.      Transportasi pada pembentukan zat besi (3 mg besi). Total besi tubuh pada manusia adalah 2.3 g. Pada laki-laki, sekitar sepertiga dari total zat besi adalah tubuh berupa simpanan zat besi. Sementara pada wanita, simpanan zat besi tersebut hanya membentuk seperdelapan dari total zat besi dalam tubuh. Lebihkurang dua per tiga dari total zat besi merupakan bentuk fungsional, yang melaksanakan fungsi metabolik atau fungsi enzim. Hampir semua zat besi ini berbentuk hemoglobin yang beredar di dalam sel darah merah. Mioglobin dan enzim yang mengandung zat besi lainnya hanya sekitar 15% dari zat besi fungsional.Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan zat besi adalah asupan zat besi. Laki-laki dewasa memerlukan sekitar 1 mg besi yang diserap setiap harinya untuk menggantikan zat besi yang hilang melalui sekresi usus, sel epitel, urine, dan kulit. Pada wanita sedang menstruasi, kebutuhan ini dapat meningkat hingga 1.4 mg.Seperti halnya kebanyakan logam lain, homeostasis zat besi dipertahankan dengan mengendalikan absorpsi yang akan meningkat pada keadaan defiensi dan menurun ketika eritroposis tertekan. Tubuh dapat mengekstresikan zat besi dengan kemampuan yang terbatas dan kelebihannya akan disimpan sebagai feritin atau hemosiderin di dalam hati, limpa, serta sumsum tulang.
Asupan zat besi yang tidak memadai akan :
1.      Meningkatkan absorpsi besi dari makanan
2.      Memobilisasi simpanan zat besi dalam tubuh
3.      Mengurangi transportasi besi ke sumsum tulang
4.      Menurunkan kadar hemoglobin
sehingga akhirnya terjadi anemia karena defisiensi zat besi Hemoglobin memainkan peranan yang penting dalam transportasi oksigen. Pada anemia karena defisiensi zat besi yang moderat akan terjadi mekanisme kompensasi melalui perubahan biokimia untuk mengimbangi pernurunan kapasitas darah dalam membawa oskigen. Sebaliknya, pada anemia karena defisiensi zat besi yang berat, penurunan kadar hemoglobin yang nyata akan mengurangi kapasitas membwa oksigen sehingga terjadi hipoksia jaringan yang kronis (vijayaraghavan, 2004).



2.2.3        Absorpsi Zat Besi
Mekanisme pengaturan keseimbangan zat besi yang utama adalah absorpsi zat besi melalui traktus gastrointestinal. Karena manusia tidak memiliki alur fisiologis untuk ekskresi zat besi, regulasi absorpsi zat besi di dalam usus sangatlah penting. Sel-sel kriptus duodenum akan mengalami maturasi untuk menjadi enterosit dengan fungsi absorpsi zat besi akan akan mencerminkan status zat besi yang ada pada saat maturasi tersebut. Nilai pH getah lambung yang rendah membantu melarutkan zat besi yang tercerna dan memudahkan reduksi enzimatik zat besi dari bentuk ferri menjadi ferro yang dilakukan oleh enzim brushborder ferrireduktase. Namun demikian, bagaimana pengaturan mekanisme absorpsi zat besi masih belum jelas benar.Simpanan zat besi dalam tubuh dan status hemoglobin individual menentukan presentase absorpsi rendah, wanita dan anak-anak menyerap zat besi dari makanandengan proporsi lebih tinggi. Pada kehamilan, dengan berkurangnya simpanan zat besi terjadi bersamaan gestasi, penyerapan besi secara berangsur dan mantap menjadi lebih efisien. Sebaliknya simpanan zat besi yang besar dalam tubuh pria akan mengurangi presentase zat besi yag diserap dan keadaan ini melindungi tubuh terhadap kelebihan muatan zat besi. Sekitar dua per tiga total zat besi tubuh terdapat di dalam sel darah merah. Penghancuran atau produksi sel darah merah bertanggung jawab terhadap proses pergantian zat besi. Kebanyakan zat besi pada sel darah merah yang dihancurkan digunakan kembali untuk sintesis hemoglobin.Zat besi banyak terkandung dalam daging merah, telur, sayuran, dan sereal, tetapi kosentrasinya di dalam susu, buah, dan produk nabati lainnya sangat rendah. Kandungan zat besi sendiri dalam setiap makanan tidak banyak, berarti karena absorpsi zat besi bervariasi secara luas. Ada dua tipe zat besi dalam makanan, zat besi non heme yang terdapat pada makanan nabati serta jaringan tubuh hewan, dan zat besi heme yang berasal dari hemoglobin serta mioglobin pada produk hewani. Zat besi heme mewakili 30-70% dari jumlah total zat besi dalam daging yang rendah lemak dan selalu dapat diserap dengan baik. Zat besi non heme dari daging merah dan makanan nabati memasuki sumber gabungan zat besi non heme yang umum di dalam getah lambung. Di sumber gabungan zat besi non heme, jumlah zat besi yang diabsorpsi sebagian besar bergantung pada keberadaan zat di dalam makanan yang meningkatkan serta menghambat absorpsi dan pada status zat besi orang tersebut.Besi heme diperoleh terutama dari daging merah, unggas, dan ikan, serta jenis ini diserap sedikitnya dua hingga tiga kali lebih baik dari pada zat besi non heme. Sebagian besar zat besi non heme berasal dari produk nabati dan susu. Lebih dari 85% zat besi dalam makanan merupakan jenis besi non heme. Ada beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan atau menghambat absorpsi besi. Absorpsi besi non heme sangat dipengaruhi oleh adanya inhibitor absorpsi besi dan fasilitator (enhancer) kelarutan zat besi pada usus halus bagian prosimal. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi besi sebagai berikut :
2.2.4        Fasilitator Absorpsi Zat Besi
Fasilitator absorpsi zat besi yang paling terkenal adalah asam askorbat (vitamin C) yang dapat meningkatkan absorpsi zat besi non heme secara signifikan. Jadi, buah kiwi, jambu biji, dan jeruk merupakan produk pangan nabati yang meningkatkan absorpsi besi. Faktor-faktor yang ada di dalam daging juga memudahkan absorpsi besi non heme (vijayaraghavan, 2004).
2.2.5        Penghambat Abosorpsi Zat Besi
Penghambat zat besi meliputi kalsium fosfat, bekatul, asam fitat, dan polifenol. Asam fitat banyak terdapat dalam sereal dan kacang-kacangan merupakan faktor utama yang bertanggung jawab atas buruknya ketersediaan hayati zat besi dalam jenis makanan ini. Karena serat pangan sendiri tidak menghambat absorpsi besi, efek penghambat pada bekatul semata-mata disebabkan oleh keberadaan asam fitat.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Absorpsi Zat Besi:
1.      Tipe makanan yang dikonsumsi
2.      Interaksi antar bahan pangan
3.      Mekanisme regulasi dalam mukosa usus
4.      Bioavailabilitas (penggunaan besi yang dikonsumsi untuk fungsi metabolik)
5.      Jumlah simpanan zat besi
6.      Kecepatan produksi sel darah merah dan perkecambahan biji-bijian yang menjadi produk pangan akan memperbaiki absorpsi dengan mengaktifkan enzim fitase untuk menguraikan asam fitat.Polifenol (asam fenolat, flavonoid, dan produk polimerisasi) terdapat dalam teh, kopi, dan anggur merah. Tanin yang terdapat dalam teh hitam merupakan jenis penghambat paling paten dari semua inhibitor di atas. Kalsium yang dikonsumsi dalam produk susu seperti susu atau keju juga dapat menghambat absorpsi besi. Namun demikian, komponen lainnya, terutama fasilitator absorpsi besi dan khususnya santapan yang kompleks, dapat mengimbangi efek penghambat pada polifenol dan kalsium (vijayaraghavan, 2004).
2.2.6        Dampak Anemia
Memiliki dampak yang cukup serius apabila tidak ditanggulangi secara serius. Adapun klasifikasi dari dampak anemia sesuai dengan umurnya (Depkes RI, 2003) :
Anak-anak :
 a. Menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar.
b. Menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan otak.
c. Meningkatkan risiko menderita penyakit infeksi karena     daya tahan tubuh menurun.
 Wanita :
a. Anemia akan menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah sakit.
b. Menurunkan produktivitas kerja.
                                                      c. Menurunkan kebugaran.
 Remaja
 a. Menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar.
 b. Mengganggu pertumbuhan sehingga tinggi badan tidak mencapai optimal.
c. Menurunkan kemampuan fisik olahragawati dan olahragawan.
 d. Mengakibatkan muka pucat.

2.2.7 Pencegahan dan Penanggulangan
Anemia Defisiensi Zat Besi Ada beberapa pendekatan yang digunakan oleh pemerintah untuk mencegah atau mengurangi terhadap kejadian kekurangan zat besi, usaha-usaha yang dilakukan tersebut antara lain:
1. Meningkatkan konsumsi makanan bergizi dengan diet tinggi zat besi dan vitamin C.
2. Menambah pemasukkan zat besi ke dalam tubuh dengan minum Tablet Tambah Darah (TTD).
3. Mengobati penyakit yang menyebabkan atau memperberat anemia seperti: kecacingan, malaria, dan TBC (Depkes RI, 1998) Mengingat unsur mineral ini terdapat dalam makanan dengan jumlah yang relative kecil, cara efektif untuk mengatasi anemia defisiensi besi segera setelah diketahui adalah dengan pemberian zat besi dalam bentuk preparat. Apabila terdapat kesalahan pada kebiasaan makan ikut memainkan peranan penting dalam menimbulkan keadaan anemia, kebiasaan ini harus dikoreksi untuk mencegah timbulnya kembali anemia pada pasien harus melihat cara-cara memilih makanan yang bervariasi dan baik (E. Beck, 2000).

2.3  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Anemia Remaja Menurut Junadi (1995),
 terdapat tiga faktor yang mempengaruhi timbulnya anemia, yaitu :
1. Sebab langsung, yaitu karena ketidakcukupan zat besi dan infeksi penyakit. Kurangnya zat besi dalam tubuh disebabkan karena kurangnya asupan makanan yang mengandung zat besi, makanan cukup, namun bioavailabilitas rendah, serta makanan yang dimakan mengandung zat penghambat absorpsi besi. Infeksi penyakit yang umumnya memperbesar resiko anemia adalah cacing dan malaria.
2. Sebab tidak langsung, yaitu rendahnya perhatian keluarga terhadap wanita, aktifitas wanita tinggi, pola distribusi makanan dalam keluarga dimana ibu dan anak wanita tidak menjadi prioritas.
3. Sebab mendasar yaitu masalah ekonomi, antara lain rendahnya pendidikan, rendahnya pendapatan, status sosial yang rendah dan lokasi geografis yang sulit.Menurut Depkes (2003),
penyebab anemia pada remaja putri dan wanita adalah :
a. Pada umumnya konsumsi makanan nabati pada remaja putri dan wanita tinggi, dibanding makanan hewani sehingga kebutuhan Fe tidak terpenuhi.
b. Sering melakukan diet (pengurangan makan) karena ingin langsing dan mempertahankan berat badannya.
c. Remaja putri mengalami menstruasi tiap bulan yag membutuhkan zat besi tiga kali lebih banyak dibanding laki-laki.

2.3.1 Sosial Ekonomi
1. Pengetahuan Gizi Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Pengalaman penelitian menyatakan ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan lebih baik daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2003).
Menurut Lunandi (1984), pengetahuan yang didapat oleh seseorang menyebabkan seseorang tersebut memiliki keterampilan. Keterampilan serta material yang tersedia akan mengarahkan seseorang pada perubahan perilaku.Pengetahuan gizi adalah kemampuan seseorang untuk mengingat kembali kandungan gizi makanan, sumber serta kegunaan zat gizi tersebut didalam tubuh. Pengetahuan gizi ini mencakup proses kognitif yang dibutuhkan untuk menggabungkan informasi gizi dengan perilaku makan agar struktur pengetahuan yang baik tentang gizi dan kesehatan dapat dikembangkan. Tingkat pengetahuan gizi seseorang dalam pemilihan makanan dan selanjutnya akan berpengaruh pada keadaan gizi individu yang bersangkutan (Irawati, 1992).Kelompok remaja masih berada pada proses belajar sehingga lebih mudah menyerap pengetahuan sebagai bekal di masa datang (Saraswati, 1997). Penelitian Dadin (2006) menguatkan teori diatas, bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kejadian pada remaja putri, yang mana remaja putri dengan pengetahuan gizi rendah memiliki resiko 2,86 kali menderita anemia dibandingkan dengan remaja putri yang pengetahuan gizinya baik.
2. Pendidikan Orangtua Pendidikan kesehatan berupaya agar masyarakat menyadari atau mengetahui bagaimana cara memelihara kesehatan mereka, bagaimana menghindari atau mencegah hal-hal yang merugikan kesehatan mereka dan kesehatan orang lain, kemana seharusnyamencari pengobatan bila sakit dan sebagainya (Notoatmodjo, 2003). Faktor pendidikan dapat mempengaruhi status anemia seseorang sehubungan dengan pemilihan makanan yang dikonsumsi. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan mempengaruhi pengetahuan dan informasi tentang gizi yang lebih baik dibandingkan seseorang yang berpendidikan lebih rendah (Permaesih, 2005) Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap perilaku hidup sehat. Pendidikan yang lebih tinggi memudahkan seseorang dalam menyerap informasi dan mengimplementasikan dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari, khusunya dalam hal kesehatan dan gizi. Tingkat pendidikan, khususnya tingkat pendidikan wanita mempengaruhi derajat kesehatan (Atmarita, 2004).Tingkat pendidikan ibu terutama dapat menentukan pengetahuan, sikap, dan keterampilannya dalam menentukan makanan keluarga. Peranan ibu biasanya peling banyak berpengaruh terhadap pembentukan kebiasaan makan anak, karena ibulah yang mempersiapkan makanan mulai mengatur menu, berbelanja, memasak, menyiapkan makanan, dan mendistribusikan makanan. Pendidikan dan pengetahuan ibu sangat berpengaruh terhadap kualitas hidangan yang disajikan, pengetahuan gizi berkembang secara bermakna dengan sikap positif terhadap perencanaan dan persiapan makanan. Semakin tinggi pengetahuan gizi ibu, maka makin positif sikap ibu terhadap kualitas gizi makanan, sehingga makin baik asupan gizi keluarga (Suhardjo, 1989).Achmad Djaeni (1996) yang menyatakan bahwa pendidikan ibu merupakan modal utama dalam menunjang ekonomi keluarga, juga berperan dalam menyusun makanan keluarga, serta pengasuhan dan perawatan anak. Bagi keluarga dengan tingkatpendidikan rendah dikhawatirkan akan lebih sulit menerima informasi kesehatankhususnya bidang gizi, sehingga tidak dapat menambah pengetahuan dan tidak mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semakin tinggi tingkat pendidikan formal diharapkan semakin tinggi pula tingkat pendidikan kesehatannya, karena tingkat pendidikan kesehatan merupakanbentuk intervensi terutama terhadap faktor perilaku kesehatan.








   BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Menurut (Stanley Hall 1991 dalam Dewi, 2008) masa remaja merupakan masa dimana dianggap sebagai masa topan badai dan stress (Storm and Stress). Karena mereka telah memiliki keinginan bebas untuk menentukan nasib sendiri, kalau terarah dengan baik maka ia akan menjadi seorang individu yang memiliki rasa tanggungjawab, tetapi kalau tidak terbimbing maka bisa menjadi seorang yang tak memiliki masa depan dengan baik.Menurut (Yulia S. D. Gunarsa dan Singgih D. Gunarsa, 1991 dalam Dewi, 2008). Pubertas adalah masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual. Masa pubertas dalam kehidupan kita biasanya dimulai saat berumur delapan hingga sepuluh tahun dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun. Anemia oleh orang awam dikenal sebagai kurang darah. Anemia adalah suatu penyakit dimana kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal. Anemia berbeda dengan tekanan darah rendah. Tekanan darah rendah adalah kurangnya kemampuan otot jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh sehingga menyebabkan kurangnya aliran darah yang sampai ke otak dan bagian tubuh lainnya (Depkes RI, 1998).Anemia yang terjadi pada seseorang lebih banyak disebabkan karena karena efek samping dari keadaan penyakit tertentu atau suatu keadaan patologis.

 3.2 Saran
      Demikianlah makalah yang telah kami susun mengenai anemia, yang meliputi berbagai macam klasifikasinya.demi kesempurnaan makalah ini kami harapkan kritikan serta saran yang membangun. Saran dari penulis kami harapkan agar pembaca dapat memaknai makalah ini. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.






DAFTAR PUSTAKA
1.      Almatsier, sunita. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
2.      Amaliah, Lili. 2002. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri Mahasiswa Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Serang tahun 2002. skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 5.
3.       Ariawan, iwan. 1998. Besar dan Metode pada Sampel Penelitian Kesehatan. Depok: Jurusan Biostatistik dan Kependudukan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia.
4.       Departemen Kesehatan RI. 1998. Pedoman Penanggulangan Anemia Gizi Untuk Remaja dan Wanita Usia Subur. Depkes RI: Jakarta.
5.        Departemen Kesehatan RI. 2003. Program Penanggulangan Anemia Gizi untuk Remaja Putri dan WUS. Depkes RI: Jakarta.
6.       Departemen Kesehatan RI. 2008. Gizi dalam angka. Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI: Jakarta.



0 comments :

Post a Comment